Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Warga Tolak Geothermal dalam Aksi Demonstrasi di Jakarta

Jumat, 20 September 2024 - Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) bersama warga Poco Leok, Mataloko, di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi demonstrasi menolak penggunaan energi geothermal. Aksi tersebut berlangsung di Gedung Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta Pusat.

Aksi ini diadakan sebagai bentuk respon terhadap Konferensi Geothermal Internasional ke-10 yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 20 September 2024. Dalam konferensi ini, para ahli dan pemangku kepentingan berkumpul untuk membahas potensi energi panas bumi di Indonesia.

Namun, warga Poco Leok dan beberapa daerah lainnya memiliki pandangan yang berbeda. Mereka meyakini bahwa industri tambang panas bumi bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi perubahan iklim. Dalam pandangan mereka, industri ini lebih banyak membawa dampak negatif daripada positif.

“Industri tambang panas bumi tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam mata pencaharian kami,” ujar perwakilan dari warga Poco Leok. Dalam aksi ini, mereka mengekspresikan kekhawatiran tentang eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran, dan pergeseran paksa atas ruang hidup yang telah menjadi warisan turun-temurun mereka.

Selain di Jakarta, aksi penolakan ini juga dilakukan secara serentak di berbagai titik lainnya yang menjadi lokasi eksploitasi geothermal, seperti Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat dan Lembata di NTT. Demonstrasi ini merupakan upaya warga untuk menjaga agar kampung halaman mereka tetap bersih dan aman dari ancaman industri tambang yang dianggap kotor dan merusak.

Dengan latar belakang ini, mereka berharap bahwa suara mereka dapat didengar dan menjadi perhatian bagi semua pihak, terutama saat membahas isu keberlanjutan dan perubahan iklim.