Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Kembali Digelar Setelah 7 Tahun, Ruwatan Kaliandra Sejati Menyita Perhatian Warga

Pada Minggu sore, 29 Juli 2024, Yayasan Kaliandra Sejati menggelar acara Ruwatan setelah tujuh tahun tidak diadakan. Ruwatan merupakan ritual pembersihan diri dari hukuman atau kutukan yang dapat membawa sial. Acara berlangsung di depan Rumah Kolonial dalam Kawasan Kaliandra.

Ritual Ruwatan dimulai pukul 15.30 WIB, diawali dengan Kirab Rama Shinta yang melibatkan para tokoh adat. Kirab ini adalah prosesi yang menyertakan tokoh-tokoh penting dalam kebudayaan Jawa sebagai simbol penghormatan dan penanda dimulainya acara. Setelah semua peserta berkumpul, prosesi utama Ruwatan pun dimulai.

Atmadja Tjiptobiantoro, owner Yayasan Kaliandra Sejati, turut hadir dalam Prosesi Ruwatan ini. Acara ini juga dihadiri oleh Wakapolres Pasuruan, Kompol Hari Azis; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Agus Hari Wibawa, serta Muspika Kecamatan Prigen dan ratusan warga lainnya. Semua peserta tampak antusias mengikuti setiap tahap prosesi dari awal hingga akhir.

Diyanto, Manager Operasional Yayasan Kaliandra Sejati, menjelaskan bahwa dalam Ruwatan Tirta Amerta Sejatining Rogo kali ini, tercatat ada sepuluh orang peserta. Dari jumlah tersebut, tiga orang berasal dari internal Kaliandra, sedangkan tujuh orang lainnya adalah warga umum yang telah mendaftar. "Kami telah mempromosikan acara ini jauh hari sebelumnya melalui Instagram dan selebaran. Namun, yang berpartisipasi hanya tujuh orang dari masyarakat umum dan tiga orang dari Kaliandra sendiri," ujarnya.

Banyak peserta Ruwatan kali ini adalah anak tunggal atau mereka yang sangat menjunjung tinggi tradisi budaya Jawa, termasuk Ruwatan itu sendiri. Secara keseluruhan, acara ini melibatkan 25 tokoh adat dari berbagai daerah seperti Malang, Blitar, Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, dan Pasuruan. Tokoh-tokoh ini memainkan peran penting dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang ada.

Harapan pasca prosesi Ruwatan adalah para peserta merasakan kelegaan dan energi baru yang dapat membantu meningkatkan semangat dalam beraktivitas sehari-hari. "Ruwatan bertujuan membersihkan hal-hal negatif yang menempel pada diri seseorang, baik karena usaha sendiri maupun hal-hal yang tidak disengaja. Kami berharap setelah diruwat, semua peserta bisa mendapatkan energi baru yang membuat aktivitas mereka lebih bersemangat," pungkas Diyanto.

Agus Hari Wibawa, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, memberikan apresiasi kepada Kaliandra yang berinisiatif melestarikan tradisi Ruwatan sebagai bagian dari budaya khas masyarakat Jawa. Tradisi ini tidak hanya penting bagi individu, tetapi juga bagi budaya secara keseluruhan.