Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Kekerasan oleh Kelompok Sayap Kanan di Inggris Dihimbau untuk Dihentikan

Baru-baru ini, Inggris diguncang oleh aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok sayap kanan. Banyak pihak mengutuk tindakan ini sebagai sangat merugikan bagi masyarakat. Sayangnya, ada beberapa komentator, baik konservatif maupun liberal, yang menyarankan perlu adanya pemahaman lebih dalam mengenai penyebab utama dari kekacauan ini.

Penyebab tersebut mencakup kegagalan dalam mengaplikasikan multikulturalisme, ketidakpuasan dari komunitas kelas pekerja kulit putih yang merasa terabaikan, dan kekhawatiran yang sah terkait imigrasi. Namun, pendekatan ini seperti menyalahkan korban. Kekerasan yang terjadi ditujukan kepada rumah dan bisnis Muslim, tempat ibadah, bahkan hotel yang menampung pengungsi dan pencari suaka.

Sebelumnya, telah banyak dibahas tentang klaim bahwa orang Muslim hidup dalam segregasi sendiri. Sementara itu, keprihatinan mengenai masyarakat kelas pekerja kulit putih juga sudah diungkapkan oleh berbagai kalangan. Masalah imigrasi kini beralih dari sekadar kekhawatiran mengenai angka imigrasi saat ini, menjadi sebuah kebencian terhadap komunitas minoritas yang sudah lama ada serta sesama warga negara.

Klaim bahwa multikulturalisme telah gagal tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sepertinya ada yang salah dengan cara pandang beberapa profesional kulit putih yang mengaku sebagai wakil kelas pekerja kulit putih. Mereka mengatasnamakan "budaya", tetapi tampaknya ini lebih berkaitan dengan kepentingan mereka untuk mempertahankan posisi nyaman di dunia akademik dan media, yang terancam ketika ada partisipasi yang lebih setara.

Partisipasi yang meningkat dari kelompok etnis minoritas, sama seperti saat perempuan mulai mendapat tempat di kehidupan publik, dirasakan sebagai ancaman terhadap suara yang selama ini menjadi dominan. Meskipun mereka masih bisa berbicara di berbagai tempat, suara mereka tidak lagi menjadi suara utama, yang membuat mereka merasa terpinggirkan.

Pemikiran ini sebenarnya salah, tetapi tujuannya adalah untuk melindungi kepentingan profesional kulit putih yang merasa terancam posisinya.

Opini ini diungkapkan oleh John Holmwood, yang menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kesadaran serta peran multikulturalisme di masyarakat.