Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Aksi Jurnalis Batam Tanda Keprihatinan atas Demokrasi yang Terancam

Puluhan jurnalis di Kota Batam melakukan aksi damai bertajuk "Indonesia Darurat" di depan Kantor DPRD, pada Jumat malam, 23 Agustus 2024. Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap keadaan demokrasi di Indonesia, yang dianggap sedang terancam.

Aksi ini dimulai pada pukul 20.00 WIB dan berlangsung secara simbolis. Para jurnalis mengenakan baju hitam dan berkumpul membentuk formasi setengah lingkaran sambil menyalakan lilin. Lilin yang menyala tersebut menjadi simbol duka atas matinya demokrasi. Di hadapan mereka, terlihat berbagai poster dengan tulisan kritis terhadap Presiden Joko Widodo.

Beberapa tulisan di poster tersebut antara lain mengungkapkan penolakan terhadap pemilu yang dinilai tidak adil, seperti, "Anak tukang kayu yang kupercaya hanya Yesus, #tolakpemiluakalakalan" dan "Tolak pilkada akal-akalan, bau ketek oligarki."

Selain membentangkan poster, para jurnalis juga menyampaikan orasi. Salah satu orator, Muhammad Islahuddin dari Batam TV, menyatakan, "Hari ini kita berkumpul di sini karena kita marah kepada pemimpin yang duduk di DPR sana. Presiden Jokowi ingin menggunakan semua alat kekuasaan untuk meloloskan anaknya masuk dalam Pilkada."

Jurnalis lainnya, seperti Ajang dari Liputan 6 dan Alamudin dari Detik, juga menyampaikan puisi-puisi kritik terhadap pemerintahan saat ini. Kegiatan ini diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam.

Menurut Alam, selaku koordinator advokasi AJI Batam, aksi ini menunjukkan rasa keprihatinan yang mendalam atas kondisi demokrasi di Indonesia. Ia menjelaskan, "Kegiatan malam ini diinisiasi oleh AJI Batam, bentuk keprihatinan atas matinya demokrasi yang terjadi di negara kita saat ini."

Alam menambahkan bahwa pembakaran lilin adalah bentuk belasungkawa terhadap kondisi demokrasi. "Hal-hal seperti ini tidak bisa dibiarkan, jurnalis harus ikut bersuara menjaga demokrasi," ujarnya. Ia berharap aksi tersebut dapat didengar oleh pemerintah agar demokrasi tidak terus dipermainkan, terutama untuk kepentingan keluarga tertentu. "Yang penting kita kawal putusan MK ini, jika nanti tiba-tiba disahkan, kita akan lakukan aksi kembali,” tegasnya.