Baru-baru ini, Deutsche Gewerkschaftsbund (DGB) melakukan survei untuk menilai kepuasan peserta didik di Jerman. Survei ini melibatkan lebih dari 10.000 peserta didik dari 25 bidang pelatihan yang paling populer. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik merasa puas dengan program pelatihan mereka dan dengan para pengajar. Namun, kepuasan ini bervariasi tergantung pada jenis industri.
Menurut DGB, ada beberapa faktor penting yang memengaruhi kepuasan pelatihan. "Indikator yang krusial adalah gaji yang sesuai dengan tarif, jumlah lembur yang dilakukan, serta berbagai tugas yang tidak berkaitan dengan pelatihan yang harus ditangani oleh banyak peserta didik," ujar DGB dalam laporan tersebut.
Di antara berbagai profesi, peserta didik di bidang teknik mesin industri dan administrasi industri menunjukkan tingkat kepuasan tertinggi. Di sisi lain, terdapat juga bidang seperti tenaga kerja di sektor kedokteran gigi, perhotelan, dan logistik yang mendapatkan peringkat lebih rendah. DGB melaporkan bahwa banyak dari profesi ini tidak dibayar sesuai dengan tarif yang berlaku.
Secara rata-rata, peserta didik menerima gaji bulanan sebesar 965 Euro. Jumlah ini jelas lebih rendah dibandingkan dengan gaji standar yang diatur dalam tarif, yaitu 1.066 Euro. Terdapat perbedaan yang signifikan tergantung pada bidang pelatihan. Misalnya, peserta didik di bidang perbankan dapat menghasilkan hingga 1.243 Euro, sementara mereka yang sedang belajar di bidang kecantikan hanya mendapatkan 830 Euro di tahun ketiga pelatihan.
Selain itu, laporan ini juga mengungkapkan masalah dalam pengalaman pelatihan di beberapa perusahaan. Sebanyak lebih dari 15 persen peserta didik melaporkan bahwa mereka "selalu" atau "sering" diminta untuk melakukan tugas yang tidak berkaitan dengan pelatihan, seperti menyeduh kopi atau membersihkan ruang kerja. Lebih dari sepertiga peserta didik juga menyatakan bahwa mereka sering kali harus melakukan lembur, yang merupakan angka lebih tinggi daripada di tahun-tahun sebelumnya.
Pengaruh besar terhadap kepuasan pelatihan berasal dari pengawas atau pengajar di perusahaan. Sayangnya, tidak semua pengajar memiliki cukup waktu untuk memberikan bimbingan yang intensif kepada peserta didik. Akibatnya, umpan balik pribadi sering kali terabaikan.
Dengan hasil ini, DGB mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kualitas pelatihan, terutama dalam hal kompensasi dan dukungan dari pengajar, untuk memastikan jalur pendidikan yang lebih baik bagi calon tenaga kerja di masa depan.
