Nineteen mahasiswi kedokteran dari Afghanistan merayakan selesainya studi mereka di Skotlandia setelah mengalami perjuangan yang panjang. Mereka harus menempuh perjuangan berat selama seribu hari. Hal ini terjadi setelah mereka dilarang menghadiri universitas di Afghanistan ketika Taliban kembali berkuasa tiga tahun lalu.
Setelah pengambilalihan tersebut, hak-hak perempuan di Afghanistan sangat dibatasi. Salah satu dampaknya adalah dikhentikannya akses pendidikan bagi perempuan, termasuk di bidang medis. Para mahasiswi ini sebelumnya telah bercita-cita menjadi dokter, tetapi situasi politik yang tidak stabil memaksa mereka untuk menyerah pada mimpi tersebut. Tantangan yang mereka hadapi telah mengubah hidup mereka dan menginspirasi banyak orang.
Untungnya, sebuah organisasi amal bekerja sama dengan pemerintah Inggris dan Skotlandia untuk membantu mahasiswi ini. Mereka berhasil mengatur visa dan tempat di sekolah kedokteran untuk para mahasiswi yang terdampak. Ini merupakan langkah penting dalam upaya mendukung pendidikan dan hak-hak perempuan, terutama di wilayah yang mengalami konflik.
Dengan semangat juang yang tinggi, para mahasiswi ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah hak bagi semua orang, termasuk perempuan. “Kami telah melalui seribu hari penderitaan untuk mencapai titik ini,” ungkap salah satu mahasiswi yang merasa sangat bersyukur bisa kembali melanjutkan jaringan pendidikan. Prestasi ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya di seluruh dunia.
