Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Tradisi Methik Pari, Ritus Syukur Masyarakat Desa Glinggang

Desa Glinggang, yang terletak di Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, mengadakan tradisi turun temurun yang dikenal sebagai methik pari pada hari Jum'at, 16 Agustus 2024. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen padi yang melimpah. Methik pari melibatkan segenap warga desa dan menjadi bentuk sinergi dalam memelihara budaya agraris mereka.

Prosesi diawali dengan pengarakkan tumpeng dan ingkung dari balai desa menuju area persawahan. Tumpeng adalah nasi yang dibentuk kerucut dan biasanya disertai lauk-pauk, sementara ingkung adalah ayam yang dimasak utuh. Sesampainya di persawahan, masyarakat bersama-sama melantunkan doa dan menikmati tumpeng tersebut, sebagai simbol kesyukuran atas hasil panen yang telah diperoleh.

Kepala Desa Glinggang mengungkapkan, "Sebelum panen kita mengadakan metik, jadi ini sudah kegiatan rutin. Terselenggara atas gotong-royong masyarakat Glinggang." Gotong-royong adalah semangat kebersamaan yang menjadi salah satu nilai penting dalam budaya Indonesia.

Menurut Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, tradisi methik pari ini mencerminkan kesadaran petani akan pentingnya menjaga budaya agraris. Ia menyatakan, "Petani tidak sekedar bertani, tetapi juga memberikan ruh kehidupan bahwa metik adalah kebudayaan yang keren." Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa petani memiliki peran penting tidak hanya dalam menghasilkan pangan, tetapi juga dalam melestarikan tradisi dan budaya.

Kang Bupati Sugiri berharap agar tradisi ini dapat meningkatkan hasil panen dan membawa keberkahan bagi masyarakat. "Semoga melalui metik ini, Glinggang menjadi kota budaya, menjadi desa yang rukun, makmur gemah ripah loh jinawi," tambahnya. Istilah "gemah ripah loh jinawi" merujuk pada keadaan yang makmur dan sejahtera, menciptakan lingkungan yang harmonis di antara warga desa.