Di Kanada, lebih dari 12.000 wanita pribumi telah dipaksa untuk tidak dapat memiliki anak sejak tahun 1970-an. Ini terungkap dalam sebuah laporan dari Senat yang menunjukkan masalah serius tentang hak asasi manusia di negara tersebut. Banyak wanita yang menjadi korban tidak bercerita tentang pengalaman menyakitkan mereka karena merasa malu.
Senator Yvonne Boyer, yang menjadi anggota Senat di Ottawa, kini berjuang agar tindakan paksa ini diakui sebagai kejahatan dalam hukum pidana Kanada. Boyer adalah Senator pertama dari etnis Métis di Provinsi Ontario. Dia ingin memberikan suara kepada wanita-wanita yang selama ini terpinggirkan oleh masyarakat.
"Banyak dari mereka dipaksa untuk disterilisasi sebelum mereka bahkan memiliki anak," ungkap Boyer. Dia menjelaskan bahwa para pekerja sosial dan tenaga medis sering kali menentukan apakah seorang wanita mampu merawat anak atau tidak, keputusan yang seharusnya tidak berada dalam kuasa mereka.
Boyer, yang pernah bekerja sebagai perawat, telah mengalami diskriminasi dalam sistem kesehatan Kanada. Karena itu, dia bertekad untuk memperjuangkan keadilan bagi para korban. Dia meminta dibentuknya sebuah badan nasional untuk menyelidiki kasus-kasus ini secara menyeluruh, mengingat hanya sedikit kasus yang dikenai penyelidikan saat ini.
Di Kanada, hampir 5% dari 40 juta penduduknya tergolong ke dalam komunitas pribumi. Saat ini, terdapat lima gugatan class action yang sedang berjalan di berbagai provinsi, di mana para wanita ini menggugat para tenaga medis dan juga pemerintah Kanada. Pemerintah telah menyediakan dana dalam jumlah besar untuk mendukung para korban dan meningkatkan akses mereka terhadap layanan kesehatan yang lebih baik, termasuk inisiatif untuk mendukung bidan tradisional.
Perjuangan Senator Boyer dan para wanita pribumi menyoroti masalah besar mengenai kekerasan dan rasisme struktural yang mereka hadapi. Kasus-kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan hak-hak wanita, terutama yang berasal dari komunitas yang terpinggirkan.
