Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Warga Pocoleok Peringati Hari Kemerdekaan dengan Protes Terhadap Proyek Geothermal

Pada Sabtu, 17 Agustus 2024, warga dari sembilan gendang di Pocoleok, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar upacara bendera untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79. Acara ini dihadiri oleh banyak masyarakat setempat, termasuk perempuan-perempuan aktif dalam komunitas.

Korida Jehanut, seorang perempuan dari Pocoleok, mengungkapkan pendapatnya tentang makna kemerdekaan. Menurutnya, kemerdekaan seharusnya diartikan sebagai pembebasan dari penjajahan. "Jika kemerdekaan dimaknai sebagai simbol pembebasan dari para penjajah, maka kami belum merdeka. Justru kami warga Pocoleok mengalami penjajahan baru lewat proyek geothermal di wilayah kami," ujarnya. Kata 'geothermal' merujuk pada energi yang diperoleh dari panas bumi, yang saat ini menjadi sorotan di banyak daerah Indonesia karena dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Saat upacara berlangsung, warga juga mendirikan bambu yang dihias dengan karung goni. Pada karung tersebut tertulis pesan-pesan seperti "Dirgahayu RI ke-79, Bersama Lawan Penjajahan Geothermal" dan "Merdeka Tanpa Geothermal." Pesan ini menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap dampak proyek energi yang dianggap merugikan masyarakat setempat.

Acara ini menyoroti konflik antara pembangunan proyek energi dan kebutuhan masyarakat lokal. Sejumlah warga merasa bahwa kemajuan seharusnya tidak mengorbankan hak-hak mereka atas tanah dan sumber daya alam. Rasa solidaritas dan perjuangan untuk hak-hak masyarakat lokal ini ditunjukkan dengan jelas dalam peringatan Hari Kemerdekaan kali ini.