Dalam situasi yang sulit, seperti yang dialami oleh rakyat Palestina, terdapat sekelompok orang yang dikenal sebagai "pengamat peduli." Mereka adalah individu yang mengakui kerentanan dan kecemasan yang dihadapi oleh orang-orang Palestina. Mereka memahami bahwa banyak orang sangat bergantung satu sama lain dalam perjuangan ini.
Pengamat peduli ini berusaha untuk membantu kehidupan rakyat Palestina melalui berbagai cara. Mereka dapat berupa demonstrasi, memboikot, atau bahkan melakukan aksi melalui nyanyian dan pawai. Setiap tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai situasi sulit yang dihadapi oleh orang-orang di Palestina.
Menurut Brigitte Herremans, seorang penulis yang mengamati situasi ini, pengamat peduli sangat peka terhadap berbagai cara untuk membayangkan dan menghidupi pengalaman yang mungkin terjadi. Mereka memahami kedalaman pengalaman Palestina—rasa sakit karena tidak bisa menceritakan kisah sendiri dan beratnya suara yang tidak terekam. Ini termasuk memahami kekerasan epistemik yang ditujukan pada pengetahuan dan budaya Palestina, serta pentingnya menolak ketidakadilan.
Namun, perlu disadari bahwa pengamat peduli bukanlah solusi sempurna. Kadang-kadang, mereka bisa menutupi suara-suara Palestina dan membuat kesalahan. Meski demikian, mereka juga berusaha untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan tidak diabaikan atau dilupakan. Mereka berjuang untuk menciptakan saluran bagi keadilan dan akuntabilitas.
Situasi ini mencerminkan kompleksitas dalam setiap upaya untuk mendukung keadilan. Pengamat peduli berfungsi untuk mendorong kesadaran dan bertindak untuk membantu, meskipun mereka tetap memiliki kelemahan dalam peran yang dimainkan dalam perjuangan itu.
