Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Gerakan Solidaritas Palestina Merebak di Kalangan Mahasiswa AS

Sejak terjadinya konflik di Gaza, gerakan solidaritas Palestina telah muncul secara besar-besaran di kalangan mahasiswa universitas di Amerika Serikat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Gerakan ini menunjukkan kepedulian dan dukungan mahasiswa terhadap rakyat Palestina yang terdampak perang.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kamp solidaritas telah didirikan di berbagai universitas. Salah satu kamp yang paling menonjol adalah "Sit-In to Stop Genocide" yang berlangsung di Universitas Stanford. Kamp ini menuntut agar universitas menghentikan segala bentuk dukungan dan kerjasama dengan pemerintah Israel dan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pendudukan Palestina.

Mahasiswa mengajukan berbagai tuntutan, termasuk pemotongan dana dari perusahaan-perusahaan yang berbisnis dengan Israel. Mereka juga meminta agar universitas memutuskan hubungan akademis dengan institusi Israel yang terlibat dalam konflik tersebut.

Beberapa pencapaian signifikan telah dicapai oleh mahasiswa melalui protes ini. Di Universitas Negeri Portland, misalnya, mahasiswa mengirimkan surat kepada Presiden sekolah, Ann Cudd, meminta agar universitas memutuskan hubungan dengan Boeing, sebuah perusahaan besar di daerah tersebut. Dalam waktu singkat, PSU setuju dan menghentikan penerimaan sumbangan sebesar $150.000 dari Boeing.

Di Irlandia, mahasiswa Universitas Trinity juga berhasil mencapai kemenangan setelah mengadakan kamp selama lima hari. Pihak administrasi universitas mengeluarkan pernyataan yang menyebut bencana kemanusiaan di Gaza dan dehumanisasi rakyatnya sebagai sesuatu yang “tercela”.

Universitas di London, King's College (KCL), menjadi universitas pertama di London yang menghentikan semua investasi langsung dalam perusahaan-perusahaan seperti Lockheed Martin dan L3Harris Technologies, serta Boeing. Sementara itu, Universitas Brown telah setuju untuk mengadakan pemungutan suara terkait divestasi pada Oktober 2024.

Selain itu, Universitas Minnesota menjawab permintaan mahasiswa dengan berkomitmen untuk lebih transparan mengenai kepemilikan mereka dalam perusahaan publik. Universitas Thompson Rivers di British Columbia, Kanada, juga setuju untuk mengungkapkan investasi mereka dalam waktu 30 hari setelah mahasiswa mengajukan permintaan informasi.

Di Finlandia, Universitas Helsinki menghentikan pertukaran pelajar dengan universitas-universitas Israel. Di AS, Universitas California, Riverside, telah menangguhkan semua program studi luar negeri dengan Israel tanpa batas waktu. Selanjutnya, Pitzer College di California juga memutuskan untuk menghapus program studi luar negeri di Universitas Haifa, Israel, dari daftar program yang disetujui.

Gerakan ini menunjukkan bahwa mahasiswa di seluruh dunia bersatu untuk mendukung keadilan dan kemanusiaan bagi rakyat Palestina, dan mengedukasi masyarakat tentang isu-isu yang sedang terjadi di wilayah tersebut.