Sejak terjadinya konflik pada 7 Oktober, lebih dari 10.000 tentara Israel dilaporkan terluka akibat pertempuran dan serangan. Kementerian Pertahanan Israel mengungkapkan bahwa banyak tentara yang juga mengalami gangguan mental akibat trauma yang dialami.
Menurut data dari kementerian tersebut, sekitar 35% dari tentara yang terluka mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD) atau gangguan mental serupa. PTSD adalah kondisi kesehatan mental yang dapat berkembang setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis yang mengancam jiwa.
Temuan lain menunjukkan bahwa hampir 37% atau sekitar 3.700 tentara mengalami trauma fisik pada anggota tubuh mereka. Hal ini menunjukkan dampak serius dari konflik tersebut terhadap kesehatan fisik tentara.
Reservis tentara merupakan kelompok yang paling banyak terluka, menyumbang hampir dua pertiga dari total 10.056 tentara yang telah dirawat di pusat rehabilitasi sejak perang dimulai. Para tentara cadangan ini adalah mereka yang biasanya menjalani latihan militer secara periodik dan dapat dipanggil kembali untuk bertugas dalam keadaan darurat.
Kementerian juga memperkirakan bahwa pada tahun 2030, jumlah veteran disabilitas akibat perang ini akan mencapai sekitar 100.000, dengan setengahnya mengalami masalah kesehatan mental. Ini menjadi perhatian serius karena banyak dari mereka akan membutuhkan perawatan jangka panjang.
"Kementerian Pertahanan kini sedang membahas strategi untuk merawat dan menangani mereka yang terluka akibat perang, di samping sekitar 62.000 veteran IDF yang sudah mendapatkan perawatan sebelum perang dimulai," lapor Haaretz pada Rabu.
Selain itu, dalam laporan militer Israel, hampir 700 tentara telah kehilangan nyawa mereka sejak perang dimulai, termasuk sekitar 300 yang tewas pada 7 Oktober dan setelahnya. Angka tersebut mencerminkan betapa mengerikannya dampak dari pertempuran yang berlangsung.
