Muhammad Abu al-Qumsan, seorang ayah berusia 33 tahun, mengalami tragedi yang memilukan setelah kehilangan anak kembar barunya yang baru berusia tiga hari, istri, dan ibu mertuanya akibat serangan artileri Israel di Gaza. Insiden yang mengejutkan ini terjadi saat Qumsan sedang dalam perjalanan untuk mendaftarkan kelahiran anak-anaknya.
Menurut Qumsan, ia baru saja meninggalkan Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah, ketika ia menerima panggilan untuk kembali ke rumah sakit. Ia berada sangat dekat dengan rumah sakit saat mendengar kabar duka tersebut. “Lima menit setelah mendapatkan akta kelahiran, saya mendapatkan akta kematian mereka,” ungkapnya penuh kesedihan.
Serangan tersebut menewaskan istrinya, Jumana Abu al-Qumsan, dua anak kembarnya, Aser dan Aseel, serta ibu mertuanya. Keluarga tersebut tinggal di lantai lima gedung Qastal, di sebelah timur Deir al-Balah, yang disebut Qumsan sebagai area aman demi kebutuhan perawatan khusus yang diperlukan istrinya selama masa kehamilan.
“Apartemen ini berada di zona aman karena istri saya membutuhkan perhatian khusus sehubungan dengan kehamilannya,” kata Qumsan. Namun, sejak dimulainya konflik, Israel tidak segan-segan membombardir area-perumahan yang sebelumnya ditetapkan sebagai zona aman oleh organisasi kemanusiaan.
Jumana, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama, menjadi salah satu korban serangan tersebut. Qumsan membawa dokumen kelahiran anaknya dan sangat ingin menunjukkan kepada istrinya mengenai bangga yang dirasakannya. “Dokumennya masih ada di tangan saya,” ujarnya. “Jadi saya pergi ke lemari pendingin untuk menunjukkan kepada dia.”
Saksi mata melaporkan bahwa Jumana terlihat berdiri di dekat jendela mencoba mendapatkan sinyal internet sebelum terkena serangan. Mereka mendeskripsikan pemandangan tragis, di mana salah satu anak kembarnya sulit dikenali karena tubuhnya terbakar, dan untuk anak kembangnya yang lain, “hanya tersisa tulangnya.”
Berdasarkan data dari kementerian kesehatan Palestina, sedikitnya 115 bayi telah kehilangan nyawa akibat serangan Israel dalam sepuluh bulan terakhir sejak konflik dimulai. Qumsan mengekspresikan kekecewaannya terhadap komunitas global, bertanya, “Di mana hak asasi manusia? Di mana hak istri dan anak-anak saya?”
