Sebuah investigasi oleh lembaga verifikasi Sanad dari Al Jazeera telah mengungkap bahwa serangan Israel di Sekolah al-Tabin, Gaza City, yang menewaskan setidaknya 100 warga Palestina, adalah serangan yang "direncanakan dengan sengaja untuk menyebabkan jumlah korban maksimal".
Hasil penyelidikan ini didasarkan pada kesaksian para korban selamat, foto sisa-sisa bom, dan dokumentasi dari kondisi setelah ledakan. Investigasi mengenali bahwa serangan tersebut dilakukan pada saat pelaksanaan salat subuh, ketika banyak orang berkumpul.
Menurut laporan tersebut, roket yang diluncurkan "menembus atap masjid, melewati lantai pertama yang merupakan tempat wanita beribadah, dan meledak di lantai dasar tempat pria menjalankan salat". Ini menggambarkan bagaimana serangan tersebut sangat menghancurkan bagi masyarakat yang sedang beribadah.
Laporan investigasi ini bertentangan dengan klaim dari pihak militer Israel. Mereka menyebutkan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menargetkan pet fighter Hamas dan Jihad Islam Palestina yang mereka klaim berada di ruang salat pria. Namun, Sanad menemukan bahwa masjid itu terkena serangan pada waktu salat ketika digunakan oleh para pengungsi, dan mereka menyertakan foto serta kesaksian korban yang menunjukkan bahwa kebakaran terjadi di area di luar lantai yang diklaim ditarget oleh pasukan Israel.
Investigasi ini menunjukkan betapa pentingnya memahami konteks dari kejadian yang terjadi. Kejadian ini merupakan bagian dari konflik yang lebih luas antara Israel dan Palestina, yang seringkali melibatkan serangan terhadap lokasi-lokasi yang dikira menjadi persembunyian pihak lawan. Namun, kenyataannya sering kali berdampak pada warga sipil yang tidak bersalah.
