Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Antonio Gramsci dan Konsep Kekuasaan Tersembunyi di Balik Kehidupan Sehari-hari

Di sebuah penjara di Italia pada masa lalu, seorang pemikir bernama Antonio Gramsci menghadapi sebuah pertanyaan besar. Ia bertanya, mengapa orang-orang yang bekerja keras dan hidup dalam sistem yang membebani mereka tetap setuju dan tidak memberontak? Bukankah mereka tahu bahwa sistem tersebut tidak adil?

Biasanya, orang berpikir bahwa kekuasaan berasal dari polisi dan tentara yang memaksa orang patuh. Tapi Gramsci melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa kekuasaan yang paling kuat tidak terlihat, tidak berbentuk senjata, melainkan tersembunyi di balik kegiatan sehari-hari. Ia menyebut kekuatan ini sebagai “kekuasaan budaya” atau dalam bahasa Inggris, cultural hegemony.

“Kekuasaan budaya adalah proses di mana kelompok yang berkuasa membentuk cara berpikir dan kepercayaan masyarakat sehingga mereka merasa itu adalah hal yang wajar dan alami,” kata Gramsci. Mereka melakukan ini melalui sekolah, media, agama, dan keluarga. Dengan cara ini, mereka membuat orang percaya bahwa sistem yang ada adalah yang terbaik dan harus dipertahankan.

Menurut Gramsci, negara bukan hanya tentang aparat kekerasan seperti polisi dan militer. Sebaliknya, negara adalah gabungan dari kekuasaan politik dan masyarakat sipil, seperti sekolah, media, dan tempat ibadah. Kekuasaan yang paling berpengaruh adalah yang beroperasi dalam kehidupan sehari-hari dan mendapatkan persetujuan dari masyarakat.

Gramsci juga menjelaskan bahwa ada dua cara berpikir yang penting, yaitu “common sense” dan “good sense”.

  • Common sense adalah cara berpikir yang telah diterima dan tidak dipertanyakan oleh masyarakat, seperti “Naiknya gaji tidak bisa dipaksa, ini karena kondisi ekonomi.”
  • Good sense adalah pemikiran kritis yang muncul dari pengalaman dan kehidupan nyata, seperti “Bekerja penuh waktu tapi tetap khawatir keuangan,” yang menunjukkan adanya ketidakadilan dalam sistem.

Dalam perjuangan melawan kekuasaan, Gramsci menyebutkan pentingnya “perang posisi” atau “long-term struggle”. Berbeda dengan “perang gerilya” yang dilakukan secara cepat dan langsung, perang posisi berarti memperkuat dan mengubah budaya dan pikiran masyarakat secara perlahan. Ini dilakukan melalui pendidikan, media, dan kegiatan budaya lainnya.

Contohnya adalah apa yang terjadi saat ini, di masa digital. Sistem pasar dan media sosial menggunakan algoritma untuk membuat orang merasa mereka selalu benar dan memiliki pandangan yang sama. Mereka menciptakan filter bubble, yaitu ruang di mana orang hanya melihat informasi yang sesuai dengan kepercayaan mereka, sehingga sulit untuk bertukar pendapat dan mencari solusi bersama.

Namun, ada harapan besar. Gramsci percaya bahwa sebuah kelompok masyarakat yang ingin berjuang untuk keadilan harus menciptakan “kekuasaan budaya” mereka sendiri. Mereka harus membentuk generasi baru yang mampu mengembangkan pemikiran kritis dan membongkar kekuasaan yang terlalu tersembunyi ini.

Dengan kata lain, kekuasaan terkuat tidak selalu dari laras senjata, tetapi berasal dari dalam pikiran dan hati manusia. Oleh karena itu, memikirkan dan melawan “kebenaran” yang dianggap pasti adalah langkah penting agar masyarakat bisa berubah dan bangkit dari sistem yang tidak adil. Gramsci terus berkarya di dalam penjara, karena ia yakin bahwa perubahan sosial dimulai dari sini, dari pemikiran kita sendiri.