Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Inovasi Energi Terbarukan dari Serbuk Bambu dan Arang Batok Kulit

Di Filipina, bahan bakar bambu dan arang batok kulit sedang dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Hal ini dilakukan agar negara tidak terlalu bergantung pada bahan bakar dari luar negeri yang biasanya harus diimpor. Dengan menggunakan sumber daya lokal, Filipina berusaha menciptakan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Institut Penelitian dan Pengembangan Produk Hutan (FPRDI) adalah lembaga yang mengembangkan bahan bakar ini. Mereka percaya bahwa kedua pilihan ini sangat membantu karena bahan bakar dari bambu dan arang batok kulit berasal dari bahan yang melimpah dan bisa diperbarui dengan cepat, sehingga cocok untuk digunakan dalam jangka panjang.

Renato Solidum Jr., Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (DOST), berkata bahwa mengubah biomassa menjadi bahan bakar yang efisien bisa membantu memenuhi kebutuhan energi Filipina dan sekaligus mendukung penggunaan energi yang terbarukan. Biomassa sendiri adalah bahan dari tanaman atau limbah organik yang bisa diubah menjadi energi.

Salah satu inovasi menarik adalah bambu pelet. Pelet adalah bambu yang dipadatkan menjadi bentuk kecil dan padat. Menurut peneliti FPRDI, Anniver Ryan Lapuz, satu meter kubik bambu pelet bisa menghasilkan energi sekitar 12,15 gigajoule. Jika dibandingkan dengan bahan bakar lain seperti serbuk kayu atau limbah pertanian, bambu pelet memiliki energi yang lebih tinggi, sehingga lebih efisien untuk digunakan.

Selain digunakan sebagai bahan bakar di pabrik tenaga listrik berbasis batu bara, bambu pelet juga bisa dipakai di rumah tangga sebagai pengganti arang tradisional. Pelet ini menghasilkan panas yang lebih tinggi dan lebih stabil saat dibakar.

Menurut Kepala FPRDI, Rico Cabangon, bambu merupakan sumber energi yang sangat dapat diandalkan karena tumbuh dengan cepat. Beberapa jenis bambu bisa tumbuh lebih dari satu meter dalam sehari dan bisa tumbuh di tanah yang kurang subur atau terdegradasi, sehingga sangat cocok untuk digunakan di berbagai daerah di Filipina.

Selain bambu pelet, ada teknologi untuk membuat arang batok kulit menjadi arang batok briquette. Briquette adalah balok kecil dari arang yang dipadatkan, yang lebih mudah dipegang, terbakar secara merata, dan menghasilkan asap yang lebih sedikit dibandingkan arang biasa.

FPRDI telah mengembangkan teknologi manual dan hidrolik untuk memproduksi briquette ini. Teknologi ini dapat membantu usaha kecil dan komunitas di desa untuk memanfaatkan limbah organik menjadi sumber energi yang bermanfaat dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.