Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Perjuangan RA Kartini dan Reaktualisasi Nilai Kesetaraan Wanita dalam Legenda Dewi Songgolangit

Perjuangan Raden Adjeng Kartini seringkali dikenang sebagai babak baru emansipasi wanita Indonesia di awal abad ke-20. Surat-suratnya yang terbaca seperti api kecil melawan kegelapan feodalisme Jawa, menuntut hak wanita untuk belajar, berdiri setara, dan bebas menentukan nasib. Namun, benarkah gagasan kesetaraan gender adalah barang baru yang sepenuhnya impor dari Barat? 

Jika kita menyelami lebih dalam khazanah budaya Nusantara, khususnya legenda Reog Ponorogo, kita akan menemukan bahwa jiwa yang sama—yaitu semangat reaktualisasi nilai kesetaraan wanita—telah termanifestasi jauh sebelumnya dalam sosok Dewi Songgolangit. Dengan demikian, perjuangan Kartini bukanlah awal yang absolut, melainkan sebuah reaktualisasi dari nilai luhur yang sudah ada, namun sempat terkubur oleh arus sejarah patriarki.

Dalam legenda Reog Ponorogo, Dewi Songgolangit bukanlah tokoh tambahan yang pasif. Ia adalah putri Kerajaan Kediri yang memiliki kekuatan spiritual dan otoritas setara dengan para raja dan kesatria. Ketika Kerajaan Lodaya (atau versi lain: Kerajaan Bantarangin) menantang Kediri melalui kesaktian Singobarong—makhluk berkepala singa dengan burung merak di atasnya—Dewi Songgolangit tidak tinggal diam. 

Ia tidak menunggu perintah ayahnya atau pangeran dari kerajaan lain untuk menyelamatkan keadaan. Justru, ia secara aktif terlibat, menggunakan strategi politik untuk menundukkan Raja Kelana Sewandana yang sombong. Bahkan dalam beberapa versi, Dewi Songgolangit yang akhirnya menguasai dan menjadi simbol dari kesenian Reog itu sendiri.

Di sinilah letak reaktualisasi pertama: Dewi Songgolangit memerankan wanita sebagai subjek kekuasaan dan penyelesaian masalah, bukan objek yang perlu dilindungi. Ia memiliki agency—kemampuan untuk bertindak dan mempengaruhi jalannya sejarah. Nilai ini serupa dengan apa yang diperjuangkan Kartini. 

Dalam tulisannya, Kartini bermimpi agar wanita Indonesia bisa “berdiri sendiri” (zelfstandig), tidak sekadar menjadi “koningin van het huishouden” (ratu rumah tangga). Dewi Songgolangit adalah arketipe kuno dari kemandirian itu. Ia menunjukkan bahwa kesetaraan bukan berarti menolak kodrat, melainkan mengambil peran publik yang setara dengan laki-laki ketika situasi membutuhkan.

Namun, mengapa nilai kesetriaan wanita setinggi itu tidak melahirkan tradisi emansipasi massal seperti di Eropa? 

Jawabannya adalah karena nilai-nilai luhur ini kemudian terkalahkan oleh gelombang budaya patriarki yang menguat di era kerajaan-kerajaan pasca-Majapahit maupun kolonial. 

Legenda tetap hidup, tetapi interpretasinya bergeser: Dewi Songgolangit sering direduksi menjadi sekadar tokoh kecantikan atau simbol mistis, sementara yang ditonjolkan adalah kegagahan laki-laki (Warok dan Pembarong). Di sinilah perjuangan Kartini menjadi penting. Ia tidak menciptakan nilai baru, melainkan menggali kembali dan mereaktualisasi semangat yang sudah ada—bahwa wanita Jawa pernah memiliki ruang setara dengan pria dalam mitos dan kepemimpinan.

Kartini, dengan surat-suratnya, adalah "Dewi Songgolangit" di zamannya. Keduanya menghadapi sistem yang mencoba mengekang mereka: Dewi Songgolangit menghadapi ego kerajaan yang feodal, Kartini menghadapi pingitan dan adat Mataram yang membelenggu. Keduanya tidak sekadar pasrah. 

Dewi Songgolangit menggunakan posisi tawar dan kecerdasannya; Kartini menggunakan pena dan pengetahuannya. Hasilnya sama: mereka membuktikan bahwa kapasitas wanita dalam berkontribusi di dalam peradaban tidak kalah dengan pria. Bedanya, Dewi Songgolangit hadir dalam ranah legenda yang simbolik, sedangkan Kartini hadir dalam ranah sejarah yang nyata dan sistemik.

Dengan demikian, klaim bahwa emansipasi wanita di Indonesia sepenuhnya merupakan hasil "pencerahan Barat" adalah keliru. RA Kartini justru adalah penerus kesadaran Nusantara yang sudah lama mengakar, salah satunya termanifestasi dalam tokoh Dewi Songgolangit. 

Melalui Reog, kita diingatkan bahwa nenek moyang kita sudah mengakui potensi besar wanita. Melalui Kartini, potensi itu diwujudkan dalam perjuangan nyata melawan ketidakadilan struktural. Jadi, ketika kita melihat penari Reog dengan gagahnya mengangkat Singobarong, sadarilah bahwa di balik warok yang kekar dan pembarong yang lincah, ada bayangan Dewi Songgolangit—wanita dengan posisi tawar setara yang kemudian dilanjutkan oleh Kartini dengan cara yang lebih membumi, rasional, dan abadi. Semangatnya sama: wanita adalah mitra sejajar, bukan sekadar pelengkap.

Kaitan antara keduanya memberikan pesan kuat: menjadi modern bukan berarti mencabut akar budaya. Kartini mengemas nilai-nilai kepemimpinan perempuan yang sudah ada dalam mitologi kita ke dalam perjuangan nyata di era kolonial. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan adalah bagian asli dari DNA nusantara.

"Makna Hari Kartini bagi saya adalah simbol emansipasi wanita, bahwa seorang perempuan mampu menjadi pemimpin tanpa meninggalkan kodrat yang dimilikinya. Emansipasi itu adalah hak dan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkarya dan memberikan kontribusi kepada masyarakat."
Lisdyarita (Plt Bupati Ponorogo)