Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

China Umumkan 'Drone' Unmanned Fighter J-6W, Tanda Baru Perang Modern

China secara resmi memperlihatkan pesawat tempur tanpa awak yang bernama J-6W pada 16 September 2025, saat acara preview sebelum Pameran Udara Changchun yang akan berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 September. Penampilan ini merupakan yang pertama kalinya pesawat tersebut diumumkan ke publik dan menjadi bukti bahwa China terus mengembangkan teknologi militer mereka.

Pesawat ini merupakan hasil modifikasi dari J-6, yang sebenarnya adalah versi pesawat tempur Soviet MiG-19 yang diproduksi ulang di China. Dulu, J-6 adalah pesawat utama yang digunakan oleh tentara udara China, tetapi sudah lama tidak dipakai dalam pertahanan langsung. Sekarang, J-6W yang tanpa awak ini sudah dilengkapi berbagai teknologi baru seperti sistem autopilot, kontrol otomatis untuk penerbangan, dan sistem navigasi mengikuti medan.

"Penampilan J-6W ini menunjukkan bahwa China serius memanfaatkan pesawat-pesawat tua yang dimodifikasi agar tetap relevan dalam peperangan modern," kata Teoman S. Nicanci, seorang pengamat militer. Pesawat ini juga dilengkapi dengan pylon tambahan untuk membawa muatan termasuk senjata ringan dan alat pengintaian, serta sistem navigasi yang mampu mengikuti medan secara otomatis, sehingga sangat cocok untuk misi pengawasan atau sebagai umpan musuh.

Menurut laporan, pesawat ini sudah pernah diuji terbang tanpa awak sejak tahun 1995 untuk berbagai latihan dan simulasi tempur. Namun, kemunculannya di publik kali ini menunjukkan bahwa China semakin percaya diri menggunakan pesawat-pesawat lama untuk mendukung operasi militernya. Saat ini, banyak jet J-6 yang sudah diganti oleh drone yang lebih canggih seperti GJ-11 yang mampu melawan pesawat siluman.

Secara praktis, J-6W memiliki berbagai fungsi penting. Ia bisa digunakan sebagai sasaran latihan bagi pilot tempur dan petugas pertahanan udara agar mereka lebih siap. Pesawat ini juga bisa berfungsi sebagai umpan untuk menarik perhatian musuh, atau sebagai pesawat penyerang yang dapat membawa senjata ringan. Dengan jarak tempuh sekitar 560 km dan kecepatan tinggi, pesawat ini tetap relevan dalam peperangan modern meskipun usianya sudah tua.

Penggunaan pesawat tanpa awak semacam ini bukan hal yang baru. Sejak tahun 2022, China sudah mengubah sekitar 600 pesawat J-6 menjadi pesawat tanpa awak. Mereka menyimpan ratusan pesawat ini di pangkalan dekat wilayah Taiwan, sebagai bagian dari strategi memperkuat kekuatan militer di kawasan tersebut.

Keunggulan utama dari modifikasi ini adalah biaya yang lebih murah dibandingkan memproduksi drone baru dari nol. Pesawat lama ini memiliki ukuran dan kecepatan yang cukup besar, sehingga mirip dengan pesawat tempur asli dan dapat digunakan dalam jumlah besar untuk diplot dalam operasi militer besar. Teknik ini mirip dengan yang dilakukan Amerika Serikat, yang memakai drone QF-4 dan QF-16 untuk latihan dan uji coba, serta digunakan Azerbaijan selama perang Nagorno-Karabakh.

Penampilan J-6W ini juga memiliki arti penting secara geopolitik dan strategis. Dengan menempatkan drone ini di pangkalan dekat Taiwan, China menunjukkan bahwa mereka siap menggunakan taktik “serangan berlapis”, yaitu menyerang secara bertahap dengan berbagai alat dan teknologi untuk membingungkan dan melemahkan pertahanan lawan. Pesawat ini membantu China dalam upaya mengurangi risiko dan memperkecil kerugian personel saat berperang.

Kesimpulannya, munculnya J-6W bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai langkah nyata bahwa China ingin memanfaatkan aset lama sebagai bagian dari strategi modern mereka. Pesawat ini meskipun tidak secanggih drone terbaru, memiliki kekuatan karena jumlahnya yang besar dan sifatnya yang bisa di-buang jika diperlukan. Ini menunjukkan bahwa masa depan perang udara tidak hanya bergantung pada teknologi canggih, tetapi juga bagaimana cara memanfaatkan pesawat-pesawat tua secara cerdas dan efektif untuk mengelabui musuh dan mengatasi tantangan di medan perang.