Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Penggunaan Serat Nanas untuk Tingkatkan Ekonomi Kreatif di Ketapang

Tim Pengabdian Masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) datang ke Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, untuk membantu warga memanfaatkan limbah daun nanas. Tujuannya adalah agar masyarakat bisa menciptakan produk kerajinan tangan dari serat nanas, yang sebelumnya biasanya dibuang atau dibakar. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung perkembangan ekonomi berkelanjutan dan melestarikan budaya kreatif daerah.

Daun nanas sebenarnya bisa diolah menjadi serat yang bernilai ekonomi tinggi. Sering kali, daun ini hanya dianggap sampah dan dibuang begitu saja. Padahal, jika diolah dengan baik, serat dari daun nanas dapat dibuat menjadi berbagai macam kerajinan, seperti tas, topi, sandal, bahkan kain tenun dan lampu. Sayangnya, kebanyakan petani di Ketapang belum mengetahui potensi besar dari daun nanas ini. Mereka biasanya membakar atau membiarkan daun nanas membusuk tanpa dimanfaatkan.

Salah satu peserta yang mengikuti pelatihan, seorang perajin kayu, menyampaikan bahwa ekosistem di sekitar mereka mulai rusak. "Daun-daun seringkali dibuang atau dibakar tanpa tahu bahwa tanaman tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan kerajinan," katanya. Ini menunjukkan betapa pentingnya edukasi agar masyarakat paham tentang manfaat limbah tanaman dan bagaimana mengubahnya menjadi produk kreatif yang bernilai tinggi.

Pelatihan pengolahan serat nanas diadakan selama dua hari, yaitu pada 27-28 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung judul “Penguatan Literasi Budaya Kreatif melalui Identifikasi Nilai dan Potensi Pemanfaatan Serat Nanas di Ketapang”. Tim yang memimpin adalah Dr. Tri Sulistyaningtyas dan beberapa anggota lainnya dari berbagai institusi. Program ini didukung oleh para pakar kriya dari ITB dan ISBI Bandung, yang memberikan pengetahuan tentang cara mengolah serat nanas secara manual dan menggunakan mesin khusus, disebut dekotivator.

Dalam pelatihan ini, warga diajarkan bagaimana cara mengurai serat nanas dari daun dengan teknik manual. Cara ini meliputi pengerokan dan proses pembusukan terkontrol yang disebut retting. Setelah itu, daun direndam semalaman hingga berwarna putih dan siap diolah menjadi berbagai produk kerajinan. Contohnya, sandal, tas, topi, dan kain yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Pihak pelatihan menekankan pentingnya literasi budaya dan kreativitas dalam memproduksi kerajinan tangan. Jika masyarakat tidak memahami pentingnya inovasi dan keunikan budaya lokal, produk yang dihasilkan akan terlihat monoton dan sulit bersaing di pasar nasional maupun internasional. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan ekonomi kerajinan tidak hanya tergantung dari bahan mentahnya, tetapi dari pengetahuan dan inovasi yang diterapkan.

Pelatihan ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan kurangnya pengetahuan tentang bagaimana menghubungkan produk yang dihasilkan dengan pasar yang tepat. Setelah memahami potensi serat nanas, masyarakat di Ketapang mulai merasa memiliki banyak pilihan usaha. Mereka tidak lagi bergantung pada satu jenis komoditas saja, tetapi mampu mengembangkan berbagai produk kerajinan yang bernilai budaya tinggi.

Selain memberikan manfaat ekonomi, pemanfaatan daun nanas ini juga mengajarkan masyarakat bahwa limbah tidak harus menjadi beban. Limbah daun nanas bisa diubah menjadi bahan baku yang bermanfaat, serta membuka peluang baru untuk masa depan ekonomi dan kreativitas di Kabupaten Ketapang. Dengan demikian, sampah dan limbah pertanian diubah menjadi inovasi dan kekayaan budaya yang mengangkat harkat hidup masyarakat setempat.