Di tengah musim kemarau, warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, tetap berpegang pada tradisi lama mereka. Mereka menggelar sebuah ritual doa untuk meminta datangnya hujan. Ritual kali ini sudah diawali dilakukan pada bulan Desember 2025, dan puncaknya dilakukan pada hari Jumat, tanggal 23 Januari. Meskipun saat itu sudah memasuki musim hujan, kondisi cuaca di daerah tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan yang cukup banyak.
Biasanya, saat musim kemarau tiba, daerah Ponorogo mengalami kekurangan air. Sungai-sungai menjadi mengering dan sumur-sumur pun kekurangan air. Pada bulan November 2025 lalu, cuaca di wilayah ini belum cukup basah, sehingga warga pun merasa kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, termasuk untuk bercocok tanam. Mereka sangat berharap agar hujan segera turun untuk menyelamatkan pertanian dan kehidupan mereka.
Ritual ini disebut sebagai "Mbah Joyonegoro". Kegiatan diawali dengan mengumpulkan ingkung (ayam panggang utuh) dan lauk pauk lain dari warga. Makanan-makanan ini kemudian dihadapkan di sebuah tempat yang disebut Pesanggrahan Gedokan. Tempat ini sendiri dipercaya sebagai tempat istirahat dari Mbah Joyonegoro, tokoh yang dianggap sebagai penjaga desa, dan tempat menambatkan kudanya dulu. Di sana, mereka mengadakan acara bersama, termasuk menyiapkan makanan untuk peserta ritual.
Selain warga biasa, seorang anggota DPRD Kabupaten Ponorogo, Yuliana, turut membantu menyiapkan logistik dan makanan untuk acara tersebut. Ia tampak bahu-membahu bersama ibu-ibu setempat. Setelah makanan disiapkan, perangkat desa dan tetua adat kemudian berjalan menuju sumber air desa, yang biasa disebut "ngunut".
Sesampainya di sumber air tersebut, para tetua adat membakar kemenyan dan dupa sebagai bagian dari ritual. Mereka juga membuang sesaji ke sumber air sebagai simbol permohonan agar hujan segera turun. Menurut salah satu sesepuh desa, "Sesajennya itu dialirkan di Ngunut atau sumber air sebagai tolak balak supaya hujan segera turun di Ponorogo."
Setelah proses larungan selesai, mereka mengambil air dari sumber tersebut dan membawanya kembali ke pesanggrahan. Di sana, sesepuh desa membacakan doa agar hujan segera turun dan memberkahi tanah mereka. Tradisi ini diakhiri dengan acara tayuban, sebuah tarian tradisional yang sudah menjadi budaya desa tersebut sejak lama.
Kegiatan ini bukan hanya sebagai ritual meminta hujan, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas keberhasilan mereka sepanjang tahun. Mereka berharap, doa dan usaha mereka ini akan segera terkabul dan membawa hujan berkah untuk seluruh desa. Eko Mulyadi, pengusaha dan Kepala Desa Karangpatihan, menyampaikan harapannya, "Semoga doa masyarakat Karangpatihan bisa segera terkabul dan diberikan hujan yang membawa berkah untuk masyarakat, sekaligus terlindung dari segala marabahaya."
doa minta hujan ritual adat Ponorogo desa Karangpatihan musim hujan tradisi Indonesia
