Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

BPBD Kota Batu Catat 209 Peristiwa Bencana di Tahun 2025, Kecamatan Bumiaji Paling Rawan Longsor

BPBD Kota Batu melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, terdapat sebanyak 209 kejadian bencana yang tercatat. Data ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total 122 kejadian pada tahun 2024.

Kecamatan Bumiaji menjadi wilayah yang paling sering mengalami bencana. Daerah ini mencatat sebanyak 99 kejadian. Wilayah ini sangat rentan terhadap tanah longsor, karena topografinya yang berbukit dan kontur tanah yang miring.

Selain tanah longsor, kecamatan ini juga sering mengalami bencana angin kencang. Data menunjukkan ada 127 kejadian longsor selama 2025, jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya 56 kejadian. Angin kencang menjadi bencana kedua terbanyak dengan 46 kejadian, meningkat dari 28 kejadian di tahun 2024.

Wakil Kepala BPBD Kota Batu, Suwoko, mengatakan,"Disusul oleh kejadian banjir sebanyak 25 kali, kebakaran bangunan sebanyak 10 peristiwa, dan satu kejadian kebakaran hutan dan lahan." Ia menjelaskan bahwa faktor geografis sangat mempengaruhi tingginya angka kejadian di Bumiaji.

"Wilayah ini banyak area perbukitan yang memiliki tanah miring dan gampang bergerak saat tanah jenuh air," katanya. Ia menambahkan bahwa sejak awal November, hujan di kawasan ini meningkat tajam. Beberapa kejadian menyebabkan material tanah dan batu menutup akses jalan warga, bahkan di beberapa titik muncul retakan tanah yang menjadi tanda peringatan alami bagi penduduk di lereng gunung.

Selama tahun 2025, tercatat satu orang mengalami luka akibat bencana. Selain itu, sebanyak 281 warga terdampak dan 24 orang terpaksa mengungsi karena kejadian bencana. Namun, Suwoko memastikan bahwa tidak ada korban jiwa.

Data juga menunjukkan kerusakan fisik yang cukup luas, seperti 24 rumah mengalami kerusakan ringan, 16 sedang, dan 19 berat. Banjir juga menggenangi 19 rumah. Dampak sosial ekonomi lainnya termasuk satu hektare sawah yang terdampak dan sebagian lahan yang rusak.

Pada sektor pelayanan dasar, lima fasilitas pendidikan mengalami kerusakan. Prasarana penting seperti jaringan air bersih, listrik, telekomunikasi, jalan, dan jembatan juga terkena dampak. Ada empat jaringan air bersih yang rusak, sebelas jaringan listrik terganggu, dan satu jembatan mengalami kerusakan.

Untuk mengurangi risiko, BPBD Kota Batu melakukan berbagai langkah mitigasi bencana. Mereka memperkuat pelatihan relawan, memetakan daerah rawan bencana, dan memasang sistem peringatan dini di kawasan lereng gunung.

Suwoko mengingatkan warga agar tetap waspada. "Jika muncul retakan tanah, pohon mulai miring, atau air dari lereng terlihat keruh, segera laporkan ke pihak berwenang," tuturnya. Ia juga mengingatkan bahwa cuaca ekstrem diperkirakan akan terus berlangsung di tahun 2026, didukung oleh prediksi dari BMKG mengenai peningkatan curah hujan akibat fenomena La Nina.

Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan pentingnya kewaspadaan. "Kita harus sadar bahwa wilayah ini berisiko tinggi terkena bencana. Kewaspadaan tidak bisa ditawar," ujarnya. Pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan dari sisi struktural dan nonstruktural, termasuk pelatihan, simulasi, dan program sekolah aman bencana.

Cak Nur, sapaan akrabnya, menyampaikan lima langkah strategis untuk penanggulangan bencana. Di antaranya adalah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media, serta membangun budaya sadar bencana melalui pelatihan dan simulasi. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang efektif hingga tingkat desa dan kelurahan, serta mengaktifkan posko dan sistem peringatan dini di wilayah rawan bencana.

Kota Batu tidak hanya berhenti di wacana. Berbagai langkah nyata telah dilakukan seperti memperbaiki struktur dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Kerja sama yang baik antara berbagai pihak telah berhasil menurunkan indeks risiko bencana Kota Batu dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 di tahun 2024.

Nurochman menegaskan, "Penanganan bencana harus beralih dari reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kesadaran diri adalah kunci agar kita mampu meminimalkan dampak dan korban bila bencana datang."