Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Peningkatan Wisatawan Tidak Seiring dengan Tingkat Okupansi Hotel

Libur Tahun Baru 2026 di Kota Batu, Jawa Timur, menunjukkan fenomena unik yang menarik perhatian. Meskipun jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota ini meningkat, tingkat hunian hotel malah menurun. Selain itu, banyak wisatawan ternyata hanya tinggal di Batu kurang dari satu hari. Kondisi ini juga mempengaruhi lalu lintas dan arus kendaraan dari luar daerah.

Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata, mengatakan hal ini setelah mendampingi Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Nanang Avianto, yang melakukan pemantauan langsung selama sehari penuh di kota ini. Menurut Andi Yudha, perhatian dari Kapolda menunjukkan bahwa Kota Batu tetap menjadi pusat perhatian dalam dunia pariwisata di saat liburan.

Dalam penuturannya, AKBP Andi Yudha menambahkan, "Kapolda mengapresiasi kerjasama yang solid dan harmonis antara jajaran Forkopimda Kota Batu. Tetapi, beliau juga mencatat bahwa pola perjalanan dan tantangan yang dihadapi setiap tahun berbeda-beda."

Data menunjukkan, selama liburan akhir tahun, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Batu naik sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi, angka ini tidak diikuti oleh peningkatan tingkat hunian hotel. Tahun 2024, okupansi hotel sekitar 67 persen, sementara tahun ini nilainya berkisar antara 50 sampai 60 persen, bahkan sempat turun ke angka 48 persen.

Andi Yudha menjelaskan bahwa para pengelola hotel, termasuk Asosiasi Pengelola Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), merasakan hal serupa. Penyebabnya, antara lain, muncul destinasi wisata baru seperti Yogyakarta dan perubahan pola perjalanan wisatawan. "Ketersediaan infrastruktur yang makin baik mendukung wisatawan yang melakukan perjalanan satu hari saja, yaitu berangkat pagi dan pulang sore. Banyak dari mereka memesan kamar secara dadakan jika ingin menginap," ujarnya.

Akibatnya, masa tinggal wisatawan di kota ini menjadi sangat singkat. Target rata-rata masa tinggal sekitar 1,14 hari sulit tercapai. Bahkan, ada kemungkinan bahwa rata-rata waktu tinggal tersebut akan semakin berkurang, menurut pengamatan pihak berwenang.

Pola kunjungan wisatawan dapat dilihat dari lalu lintas kendaraan keluar dan masuk kota. Puncak kunjungan terjadi pada 24 dan 25 Desember 2025, lalu angka kunjungan menurun pada tanggal 26. Tanggal 27 Desember, ada lagi peningkatan lalu lintas sebelum akhirnya kembali menurun. Volume kendaraan yang keluar dari tiga pintu tol utama—Singosari, Madyopuro, dan Pakis—sejalan dengan tingkat kunjungan wisata.

Kapolres Batu menambahkan, "Grafik volume kendaraan per jam hampir sama dengan grafik okupansi hotel. Meskipun pola kunjungan setiap tahun mirip, tetap ada dinamika tertentu yang memengaruhinya."

Meskipun menghadapi tantangan ini, jajaran Forkopimda Batu tetap fokus menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan. Mereka berharap di masa depan, dapat ditemukan cara agar wisatawan tidak hanya sekadar datang, tetapi juga mau tinggal lebih lama. Dengan begitu, nilai tambah dari sektor pariwisata di Kota Batu bisa meningkat dan perekonomian juga akan semakin berkembang.

Andi Yudha menutup, "Kami berharap okupansi hotel bisa bertambah. Ini tantangan besar yang harus kita selesaikan bersama agar wisatawan merasa betah dan ingin menginap lebih lama di Batu."