Pagelaran wayang kulit yang berlangsung dalam rangka acara Nalafes di Wisma Nala, Kota Batu, bukan hanya sekadar pertunjukan budaya. Acara ini juga menjadi momen penting dalam menampilkan wajah baru dalam dunia seni tradisional Jawa. Di tengah suara gamelan dan lakon pewayangan yang memikat, perhatian publik tertuju pada sosok Alice Geordeou, seorang sinden cilik asal Prancis yang tampil percaya diri membawakan lagu Jawa.
Pengalaman Alice menunjukkan bahwa seni tradisional Jawa mampu melintasi batas negara dan umur. Siswi sekolah dasar ini dikenal juga sebagai drummer cilik yang berbakat. Ia menunjukkan ketertarikan besar terhadap karawitan Jawa, terutama seni vokal sinden, yang ia pelajari di Sanggar Manisrenggo di Desa Tegalweru, Malang. Sanggar ini didirikan dan diawasi langsung oleh Ki Dalang Dian Permana Putra.
Ki Dian Permana Putra menyebut bahwa kehadiran anak-anak dari berbagai budaya seperti Alice menjadi keberhasilan dalam proses pewarisan budaya. Ia mengatakan, “Minat Alice terhadap vokal sinden sangat tinggi. Ia cepat menangkap nada dan irama. Ini menjadi harapan bahwa seni tradisi kita bisa terus hidup dan diterima lintas bangsa.”
Pagelaran wayang ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak-anak. Menurut Dian, tampil di depan umum membantu membangun kepercayaan diri dan mental anak-anak yang mengikuti pelatihan di sanggar tersebut. Ia menambahkan, “Kami ingin anak-anak berani tampil, tidak minder, dan bangga dengan budaya yang mereka pelajari.”
Selain itu, guru vokal Alice, Eni, menerangkan bahwa proses belajar dilakukan dalam suasana yang penuh keceriaan. Meskipun belajar sambil bermain dan bergerak, Alice menunjukkan daya tangkap yang baik. “Dia cepat memahami pelajaran. Malam ini, Alice menyanyikan sebuah lagu Jawa berjudul Jenang Gulo,” jelas Eni.
Pada malam pertunjukan, lakon “Dewa Ruci” diangkat sebagai tema utama. Cerita ini dipilih oleh Komandan Lanal Malang, Agus Haryanto, dan menyampaikan pesan tentang pencarian jati diri manusia. Menurut Dian, “Seperti Bratasena yang menemukan jati dirinya, manusia bangsa Nusantara harus memiliki karakter, budaya, dan identitas sendiri di tengah arus globalisasi.”
Supaya tetap relevan dengan gaya hidup masa kini, pagelaran wayang disajikan secara ringkas, dengan durasi sekitar empat jam. Meski singkat, cerita inti tetap disampaikan dengan baik agar seni tradisional ini tetap diminati, terutama oleh generasi muda.
Sukses pertunjukan juga didukung oleh para pemain muda dari Sanggar Manisrenggo, yang berasal dari berbagai latar belakang seperti pelajar, mahasiswa, dan pekerja. Kehadiran dua sesepuh di kelompok ini memberikan keseimbangan antara semangat regenerasi dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi.
Acara pagelaran wayang kulit ini merupakan bagian dari rangkaian Nalafes yang digagas oleh TNI Angkatan Laut. Tujuan acara ini adalah mengangkat potensi budaya lokal dan memperkenalkan berbagai seni tradisional lainnya, seperti Bantengan, Kuda Lumping, dan Reog. Dengan demikian, seni wayang tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang untuk berkumpul dan berbagi budaya antar generasi dan bangsa.
Melalui panggung Nalafes, sinden cilik seperti Alice menjadi simbol harapan baru agar seni budaya Jawa dapat terus berkembang dan diteruskan ke generasi berikutnya.
Sinden cilik pagelaran wayang kulit budaya Jawa regenerasi seni Alice Geordeou Nalafes Batu seni tradisional
