Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Sarat Sejarah, Wawali Kota Malang Gagas Pembangunan Museum di Stadion Gajayana

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, mengungkapkan rencananya untuk membangun sebuah museum di Stadion Gajayana. Stadion ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perkembangan olahraga di Kota Malang. Ali berharap, museum ini bisa menjadi tempat untuk mengenang perjalanan panjang stadion tertua di Indonesia ini.

Ide pembangunan museum muncul setelah penerbitan sebuah buku berjudul "Satu Abad Stadion Gajayana". Buku ini memuat sejarah stadion yang telah berdiri sejak tahun 1924 dan merupakan stadion tertua di Indonesia yang masih aktif digunakan. Buku ini menjadi sumber literasi yang penting, karena menuturkan perjalanan panjang stadion dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan Indonesia.

Wawali Kota Malang menjelaskan bahwa buku ini ditulis oleh 40 penulis dari berbagai latar belakang, seperti sejarawan, budayawan, arsitek, dan praktisi olahraga. Mereka berkolaborasi untuk menyusun cerita lengkap mengenai stadion ini, sebanyak 550 halaman. Menurut Ali, buku ini bukan hanya bernilai ilmiah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Sejarah stadion ini sangat penting untuk dilestarikan. Jangan sampai dialihfungsikan menjadi pusat bisnis yang mengabaikan sejarah dan maknanya," ujar Ali saat berbicara pada Rabu (24/12/2025). Ia menegaskan bahwa pemerintah kota berkomitmen merawat fasilitas Stadion Gajayana agar tetap menjadi tempat untuk berbagai kegiatan olahraga masyarakat Malang.

Ali juga menyebutkan bahwa pembangunan museum di stadion ini merupakan salah satu usulan yang muncul dari berbagai masukan setelah buku "Satu Abad Stadion Gajayana" diterbitkan. Meski saat ini keuangan kota belum memungkinkan untuk membangun museum, ia yakin di masa depan fasilitas ini dapat menjadi pusat literasi, sejarah, dan budaya olahraga.

Lebih dari sekadar bangunan olahraga, Stadion Gajayana juga memiliki makna sejarah yang mendalam. Stadion ini pernah menjadi saksi bisu peristiwa penting, seperti penyerahan kekuasaan dari penjajah Belanda kepada Jepang pada tahun 1942, dan menjadi markas perjuangan rakyat Malang saat menanggapi agresi militer Belanda.

Selain itu, stadion ini juga pernah digunakan sebagai tempat pidato Bung Tomo yang membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia. Dengan usianya yang sudah lebih dari 100 tahun, stadion ini tetap aktif dalam mendukung perkembangan sepak bola di Malang.

Ali Muthohirin menegaskan bahwa keberadaan stadion ini harus dipertahankan sebagai warisan sejarah. Ia berharap, dengan adanya museum nanti, stadion Gajayana dapat menjadi pusat pengetahuan tentang sejarah bangsa Indonesia sekaligus olahraga di kota Malang. "Ke depan, pembangunan museum ini akan memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat Malang terhadap warisan budaya mereka," tuturnya.