Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Mahasiswi UB Rilis Novel “Amarthaloka” yang Bahas Kepercayaan Tiongkok tentang Arwah dan Duka Personal

Seorang mahasiswi dari Universitas Brawijaya (UB)  telah berhasil menerbitkan sebuah novel berjudul "Amarthaloka". Novel ini muncul dari tugas akhir studi jurusan Sastra Cina di Fakultas Ilmu Budaya UB. Penulisnya adalah Fathimah Zahra Nur Anissa, yang menemukan inspirasi dari kepercayaan tradisional Tiongkok dan pengalaman pribadi.

Novel ini memiliki ketebalan 212 halaman dan mengisahkan perjalanan seorang gadis bernama Zahra yang mengalami depresi berat setelah kehilangan orang tuanya. Kehidupannya berubah drastis saat bertemu dengan sosok arwah bernama Esa, yang terjebak di antara dunia manusia dan dunia lain. Penulis dibimbing oleh Dosen Prodi Sastra Cina, Diah Ayu Wulan, dan penguji, Nanang Endrayanto.

Judul "Amarthaloka" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti "keabadian". Fathimah memilih judul ini karena tertarik dengan makna mendalam dan estetika bahasa Sanskerta. Menurutnya, "Selain singkat dan mudah diingat, saya tertarik pada estetika dan kedalaman makna bahasa Sanskerta."

Dalam cerita ini, unsur budaya Tionghoa sangat kental. Fathimah mengungkapkan, ia terinspirasi dari berbagai film, novel, dan penelusuran mandiri di internet. Salah satu kepercayaan yang dia angkat adalah bahwa arwah akan tetap berada di sekitar rumah selama 40 hari sebelum akhirnya pergi kembali ke alam lain. Hal ini adalah kepercayaan umum dalam budaya Tionghoa tentang keberadaan arwah setelah meninggal dunia.

Ceritanya juga memperlihatkan konflik menarik, yakni sosok arwah yang lupa identitas dirinya dan terjebak selama setahun di alam antara dunia manusia dan alam arwah. Fathimah menggabungkan pengetahuan dari mata kuliah Budaya Cina, termasuk budaya tentang jimat atau hu/hù shēn fú. Menurut kepercayaan Tionghoa, jimat adalah benda simbolis yang dipercaya membawa keberuntungan dan perlindungan, sering dihiasi aksara kuno, simbol naga, atau Bagua.

Fathimah menambahkan, "Kesinambungan materi dari dosen sangat terasa, terutama dalam penggarapan unsur budayanya." Novel ini tidak hanya memenuhi syarat akademik, tetapi juga telah diterbitkan dan dipasarkan secara umum. Pada hari Senin, 22 Desember 2025, novel ini dipresentasikan di Fakultas Ilmu Budaya UB dan kini mulai dijual secara online dengan harga promo Rp 75.000—lebih murah dari harga normal Rp 85.000. Penjualan novel ini terus mengalami peningkatan yang positif.

Fathimah juga menyatakan keinginannya untuk mengembangkan kisah ini menjadi seri lanjutan. Ia berharap, suatu saat nanti, bisa melanjutkan cerita dari "Amarthaloka" di waktu luang jika ada kesempatan.

Dengan karya ini, Fathimah Zahra Nur Anissa tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga berhasil menyusun sebuah karya sastra yang menggabungkan perasaan sedih dan luka hati personal dengan kearifan budaya lintas tradisi, khususnya tentang kepercayaan arwah dari budaya Tiongkok.