Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Strategi Canggih Pemerintah Melumpuhkan Ormas Islam lewat Dunia Bisnis Batu Bara

Sejak lama, pemerintah berusaha melemahkan kekuatan organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia. Biasanya, mereka menggunakan cara-cara kasar seperti mengubah wacana tentang radikalisme, mengatur dana hibah, dan mempersulit izin-izin. Namun, cara-cara itu dianggap terlalu kuno dan mudah diketahui khalayak.

Sekarang, pemerintah lebih cerdas dan halus dalam berbuat. Mereka memakai pendekatan yang lebih modern dan tidak langsung. Strategi mereka adalah dengan menempatkan ormas-ormas ini dalam dunia bisnis batu bara yang menggiurkan. Mereka mengajak ormas-ormas besar itu untuk terlibat dalam bisnis ekstraktif, seperti penambangan dan pengolahan batubara.

Begitu ormas-ormas itu mulai masuk ke bidang ini, cerita perjuangan mereka perlahan berubah. Dari yang sebelumnya sebagai penjaga moral dan kekuatan rakyat, mereka kini seperti perusahaan yang fokus pada laporan keuangan dan perhitungan biaya produksi. Mereka jadi sibuk menghitung seberapa banyak tambang yang harus diambil, siapa investor asing yang ingin masuk, sampai berapa besar royalti yang harus dibayar.

Hasilnya, masyarakat mulai sadar. Ormas yang dulu lantang bicara moral, kini terlihat sibuk berbisnis dan mengurus soal kontrak serta izin tambang. Mereka bukan lagi sebagai penyeimbang kekuasaan, melainkan bagian dari pemain bisnis yang berebut tambang dan sumber kekayaan alam. Akibatnya, legitimasi moral mereka pun rontok pelan-pelan seperti bangunan yang digerogoti tanah.

Pemerintah tidak perlu lagi berdebat keras atau menggunakan kekerasan. Mereka cukup membuka pintu bisnis besar yang membuat ormas sibuk sendiri. Dengan begitu, mereka tidak punya waktu untuk kritik politik atau memperjuangkan keadilan. Energi dan perhatian mereka tersedot oleh kegiatan tambang yang menguntungkan segelintir orang dan korporasi besar.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan strategi politik yang sangat halus dan cerdas. Mereka tidak lagi harus menekan ormas secara langsung. Cukup dengan membuka peluang bisnis besar, maka para elit ormas akan sibuk dengan urusan keuangan dan pembagian saham. Hal ini membuat mereka lupa akan tugas utama mereka sebagai penjaga moral rakyat.

Padahal, dulu, kekuatan ormas berasal dari moralitas dan keberanian mereka dalam memperjuangkan keadilan. Kini, kekuatan mereka justru tergadaikan oleh kekayaan sumber daya alam. Mereka terjebak dalam permainan konsesi dan bisnis batu bara yang menguras energi mereka. Akibatnya, patronase politik dan kekuasaan mereka mulai runtuh dari dalam karena adanya kerakusan dan keserakahan di dalam diri mereka sendiri.

Tak hanya itu, masyarakat pun mulai tertawa getir melihat ironinya. Ormas yang dulu lantang menegakkan moral justru sibuk memoles citra CSR tambang dan menunggu tanda tangan kontrak. Mereka adalah bagian dari game resource capture—mengambil sumber daya dengan cara yang tidak terlihat, namun sangat efektif

Di akhir cerita, diceritakan bahwa dulu, ormas besar mendapatkan kekuatan dari moralitas mereka. Kini, mereka kehilangan itu semua karena tergoda oleh kekayaan tambang. Mereka bukan lagi sebagai pelindung rakyat, melainkan tergadai oleh izin dan konsesi tambang yang menguasai mereka secara diam-diam. Pemerintah pun memenangkan permainan ini dengan cara yang sangat halus dan cerdas. Mereka membuat lawan-lawan mereka sibuk menghancurkan diri sendiri, tanpa perlu tindakan keras secara frontal.