Selama ini, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dianggap sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat. Mereka adalah pelaku usaha kecil yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan perekonomian di berbagai daerah, termasuk Kota Batu. Baru-baru ini, Pemkot Batu mengadakan acara bernama Scale Up Business untuk membantu UMKM agar bisa naik kelas dan berkembang lebih besar.
Melalui kegiatan ini, para pelaku usaha kecil mendapatkan peluang untuk memperbaiki dan meningkatkan usahanya. Event ini menjadi momen penting agar UMKM menjadi lebih tangguh, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan berkompetisi di pasar. Sektor UMKM juga biasanya menyerap banyak tenaga kerja, sehingga membantu mengurangi pengangguran di daerah tersebut.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, mengatakan bahwa kota ini memiliki potensi besar di bidang UMKM, industri kreatif, pertanian olahan, dan wisata. Tetapi, mereka masih dihadapkan dengan tantangan seperti digitalisasi yang belum maksimal dan perubahan selera konsumen. Selain itu, kapasitas manajerial dari pelaku usaha juga perlu diperkuat agar mereka bisa bersaing lebih baik.
"Scale Up Business menjadi ruang harapan bagi usaha kecil untuk tumbuh menjadi besar. Ide sederhana bisa jadi produk unggulan, dan kerja keras pelaku usaha akan menjadi kekuatan ekonomi daerah," ujar Heli Suyanto.
Pemkot Batu juga memberikan penghargaan kepada berbagai institusi yang berperan dalam mendukung kemajuan usaha di kota ini. Ada juga dukungan dalam bentuk fasilitasi ekspor, pembiayaan, dan penguatan aturan agar bisnis berjalan lebih lancar dan aman.
Sebelumnya, Wali Kota Batu, Nurochman atau dikenal dengan sebutan Cak Nur, menyampaikan bahwa kota ini memiliki sekitar 220 ribu penduduk dan mampu mencatatkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sebesar Rp20,25 triliun di tahun 2024. Laju pertumbuhan ekonomi ini sangat pesat sejak pandemi Covid-19 melanda. Pada tahun 2020, ekonomi Batu mengalami kontraksi sebesar -6,46 persen, tetapi kemudian tumbuh positif 6,20 persen di 2021 hingga 2023, bahkan melampaui pertumbuhan di Jawa Timur dan secara nasional.
"Ini menandakan bahwa ekonomi Kota Batu cukup kuat dan didukung oleh sektor pariwisata, UMKM, pertanian, dan perdagangan," kata Cak Nur.
Sektor wisata sangat penting karena mampu menarik 10 juta wisatawan ke 96 destinasi wisata di kota ini, sehingga berkontribusi sekitar 35 persen terhadap PDRB. Sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 16,20 persen dan luas lahan pertanian mencapai 11.748 hektar. Sementara itu, UMKM menyumbang hampir setengah dari seluruh perekonomian kota, yaitu sebesar 47,43 persen.
Politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa ini juga menambahkan bahwa kegiatan pemerintah pusat yang ditempatkan di Kota Batu sangat membanggakan. Ia menegaskan bahwa pihaknya siap bekerja sama dan berinovasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan meningkatkan peluang usaha di daerah tersebut.
Pada bidang investasi, kepercayaan dunia usaha juga cukup tinggi. Investasi yang masuk ke Batu pada Oktober 2024 mencapai Rp1,366 triliun, dengan tingkat realisasi sebesar 102 persen. Angka ini meningkat menjadi Rp2,6 triliun di Oktober 2025, yang artinya realisasi mencapai 234 persen dan menunjukkan kepercayaan yang cukup tinggi dari investor terhadap kondisi kota itu.
"Ini menunjukkan bahwa pemerintah Kota Batu mampu menciptakan iklim investasi yang aman dan nyaman. Mari kita jaga suasana yang harmonis agar pertumbuhan ekonomi tetap berlanjut," tutup Cak Nur dengan semangat.
UMKM pengembangan bisnis Kota Batu ekonomi kreatif investasi batu
