Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Pagelaran Seni Cahaya Perantauan Tionghoa ke-20: Melestarikan Budaya dan Bangun Kerjasama Internasional

Pagelaran Seni Cahaya Perantauan Tionghoa ke-20 telah berlangsung dengan meriah pada tanggal 28 Oktober 2025 di Aula Kawasan Pertanian Perantauan Tionghoa Guilin. Acara ini menjadi momen penting karena memperingati 80 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok dan menunjukkan kekuatan budaya dalam mempererat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok.

Pagelaran ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara komunitas perantauan Tionghoa Guilin, Kantor Urusan Perantauan Tionghoa Guilin, Federasi Perantauan Tionghoa, dan Federasi Serikat Pekerja Guilin. Banyak orang memberi apresiasi tinggi terhadap acara ini karena mampu menghadirkan pertunjukan seni yang indah sekaligus mempererat persahabatan antar bangsa.

Menurut Zhang Wei, perwakilan Kantor Urusan Perantauan Tionghoa Guilin, acara ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam membangun identitas budaya dan mendukung peran komunitas perantauan. “Melalui pagelaran seni ini, kami ingin menunjukkan kontribusi positif komunitas dan memperkuat budaya lokal,” ujarnya.

Sementara itu, Chen Li, Ketua Panitia, mengatakan bahwa acara ini lebih dari sekadar pertunjukan seni. “Ini adalah momen mempererat hubungan antar generasi perantauan Tionghoa dan sebagai wadah ekspresi budaya mereka,” katanya.

Salah satu keunikan pagelaran tahun ini adalah partisipasi dari Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Sastra Cina Universitas Brawijaya (UB). Kehadiran mereka membuka ruang diskusi budaya yang lebih luas antara Indonesia dan Tiongkok. Nanang Indrayanto, M.Sc., ketua tim, menyatakan bahwa keikutsertaan ini adalah bagian dari diplomasi budaya yang dilakukan oleh universitas. “Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia internasional,” katanya.

Perwakilan dari Guangxi Normal University di Tiongkok, Li Dongmei, menyampaikan bahwa kerjasama dengan Universitas Brawijaya berjalan sangat baik. “Keterlibatan mereka dalam acara ini membuka lebih banyak peluang pertukaran budaya dan akademik,” ujarnya.

Para seniman lokal Guilin juga menyambut baik partisipasi peserta internasional. Wang Jing, seorang seniman senior, mengatakan bahwa keberagaman peserta membawa energi segar. “Semangat muda dari peserta dari Indonesia dan negara lain membantu melestarikan tradisi dan budaya kami,” kata Wang Jing.

Pagelaran Cahaya Perantauan Tionghoa ke-20 ini menegaskan bahwa seni dan budaya adalah jembatan untuk menyatukan bangsa dan generasi. Melalui acara ini, hubungan Indonesia dan Tiongkok semakin erat, terutama di bidang pendidikan dan budaya. Kesuksesan acara ini diharapkan terus meningkatkan kolaborasi kreatif dan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan.