Matthew Crawford sebelumnya tidak percaya sama sekali pada Tuhan. Saat kecil, dia harus tinggal bersama ibunya setelah orang tuanya bercerai. Mereka sering pergi ke tempat-tempat berbeda, seperti India dan pusat kota di Amerika, tetapi perasaan itu tidak pernah bertumbuh menjadi kepercayaan.
Seperti ibunya, Crawford selalu mencari-cari arti hidup dan kebahagiaan. Ia merasa tidak yakin siapa dirinya dan apa makna menjadi pria sejati. Bahkan saat menjadi mahasiswa di Universitas Chicago pada tahun 1990-an, Crawford mempelajari filsafat Yunani dan menganggap agama sebagai sesuatu yang tidak penting.
Ia mengagumi pemikir Jerman, Friedrich Nietzsche, yang pernah mengatakan bahwa “Tuhan telah mati.” Ia percaya bahwa agama hanyalah penggantung untuk orang yang lemah. “Waktu itu, saya pikir Tuhan tidak ada dan agama hanyalah ilusi,” ujar Crawford.
Namun semuanya berubah pada tahun 2016. Saat itu, Crawford diundang untuk memberi ceramah tentang “krisis perhatian” di sebuah gereja di Winnipeg, Kanada. Di sana, ia bertemu Marilyn Simon, seorang ahli Shakespeare dan anggota gereja yang sangat percaya kepada Tuhan. Marilyn memiliki kekuatan yang besar karena keberimanannya, dan hal itu memberi Crawford pandangan baru tentang kekuatan iman.
Konversi Crawford ke agama Anglikan terjadi akhirnya pada akhir tahun 2023. Ia merasa bahwa kepercayaan kepada Tuhan seperti pengalaman terbangun dari mimpi yang membuka pandangan baru. Ia berkata, “Seperti pengalaman psychedelic, saya merasa saya bisa melihat lapisan realitas yang sebelumnya tersembunyi.”
Sekarang, Crawford menyadari bahwa banyak orang di era modern merasa memiliki kekosongan dan keinginan akan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Ia percaya, “Harus ada suatu kekuatan yang lebih besar yang mengatur dan memberi arti kehidupan kita.”
Padahal, pada tahun 1996, Crawford mungkin akan menertawakan gagasan ini. Saat itu, ilmuwan Richard Dawkins mengatakan bahwa percaya kepada Tuhan adalah seperti menularkan virus kecil dan berbahaya. Waktu itu, banyak orang di dunia Barat percaya bahwa orang harus meninggalkan agama dan hanya mengandalkan sains dan akal sehat.
Namun, saat ini, tren dan pemikiran sedang berubah. Banyak ilmuwan, penulis, dan tokoh terkenal mulai memikirkan kembali pentingnya agama. Mereka menyadari bahwa agama bisa memberi makna dan moral yang tidak bisa dijelaskan oleh sains saja.
Seperti yang dikatakan oleh psikolog terkenal, Jonathan Haidt, setiap manusia memiliki “lubang Tuhan” di hatinya yang tidak bisa diisi oleh apa pun selain kekuatan yang lebih besar. Ia menambahkan bahwa, “Kita tidak bisa hidup tanpa makna dari kekuatan tersebut.”
Di masa lalu, banyak kaum intelektual menganggap bahwa keberadaan Tuhan sudah tidak relevan. Mereka memandang bahwa masyarakat modern harus meninggalkan kepercayaan agama. Namun, situasi berubah setelah peristiwa besar seperti serangan teror 11 September 2001, yang membuat orang tua dan anak muda mulai memperhatikan kembali pentingnya agama.
Di berbagai belahan dunia, muncul fenomena orang-orang terkenal mulai memeluk kembali kepercayaan mereka. Contohnya, komedian Russell Brand, yang sebelum ini dikenal agnostik, mengatakan akan dibaptis karena merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang memanggilnya. Di pihak lain, tokoh teknologi seperti Elon Musk dan Peter Thiel mengungkapkan pandangan mereka bahwa Tuhan dan agama memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, bukan sekadar mitos untuk mengisi kekosongan.
Hingga saat ini, banyak orang mulai bertanya-tanya apakah mereka benar-benar percaya atau hanya mengikuti karena alasan praktis. Ada yang mengatakan bahwa kepercayaan sejati harus berasal dari hati dan keyakinan, bukan sekadar tindakan utilitarian semata. Namun, sebagian lagi berpendapat, yang penting adalah adanya makna dan kekuatan dari kepercayaan tersebut, apapun bentuknya.
Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian dan perubahan besar, keberanian untuk mempertanyakan dan mencari jawaban tentang keberadaan Tuhan tetap menjadi topik yang menarik dan tidak pernah usang. Bon Sullivan, seorang penulis dan komentator, menyebut bahwa “perasaan percaya bisa berbeda-beda, tapi yang penting adalah kita berusaha untuk memahami makna hidup yang sesungguhnya.”
penulis berubah iman tren agama baru kepercayaan Kristen kebangkitan agama masyarakat modern atheisme keyakinan spiritual
