Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Pentingnya Memberi Ruang Bebas Tekanan untuk Perkembangan Anak

Dalam sebuah postingan di Facebook, Dyah Purana menulis mengenai pentingnya memberikan anak ruang untuk berkembang tanpa tekanan berlebihan. Ia mengutip seorang filsuf terkenal, Bertrand Russell, yang mengatakan bahwa anak-anak akan berkembang dengan baik jika masa kecil mereka tidak penuh tekanan.

Russell menjelaskan bahwa tekanan yang dia maksud di sini bukanlah tantangan atau disiplin, melainkan tekanan dari luar seperti jadwal pelajaran yang padat, tuntutan agar anak mendapatkan nilai terbaik, dan ekspektasi orang tua agar anak sesuai standar umum. Tekanan ini bisa membuat anak merasa stress dan tidak bebas mengembangkan diri sesuai minat mereka.

Hebatnya, Russell juga berkata bahwa jika anak tidak mengalami tekanan berlebihan, mereka justru mendapatkan "Ruang Kosong". Ruang ini sangat penting karena memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan minat dan bakat sendiri, bahkan jika minat tersebut tergolong aneh atau tidak lazim.

Salah satu contoh yang diulas adalah Elon Musk, tokoh terkenal di bidang teknologi dan inovasi. Masa kecil Musk tidak mudah karena sering membolos dari sekolah dan mengalami bullying. Tetapi, selama masa kecilnya, dia memiliki kebebasan besar dalam mengejar minatnya sendiri. Musk suka membaca ensiklopedia Britannica sampai habis dan tidak dipaksa ikut les piano atau olahraga tertentu.

Dengan ruang bebas tersebut, Musk mampu belajar sendiri tentang coding dan bahkan menciptakan video game bernama Blastar saat berusia 12 tahun. Ia menjual kode game tersebut ke majalah komputer, hasil dari minat anehnya yang tidak dipaksakan orang lain.

Penulis juga mengingatkan bahwa sering kali orang tua terlalu sibuk mengisi jadwal anak-anak mereka sampai anak tidak punya waktu untuk bosan. Padahal, masa bosan adalah waktu yang penting untuk menemukan dan mengejar minat sendiri. Seperti yang dikatakan ayah dari Elon Musk, "Kalau anak-anak terus sibuk, mereka tidak punya waktu untuk bermimpi dan berkreasi."

Dyah Purana menambahkan, kita sebaiknya tidak memaksa anak belajar menghafal terus-menerus atau mengikuti ritual tanpa makna karena hal tersebut hanya meniru pola lama yang tidak mengembangkan kreativitas mereka. Ia juga mengutip Carl Sagan yang mengatakan bahwa pola pengajaran yang terlalu ritualistik dan menghafal adalah cerminan dari bagian otak reptil manusia yang cenderung untuk melakukan tindakan otomatis dan tanpa kreativitas.

Untuk masa depan, Sagan berharap manusia bisa lebih mengembangkan sisi neokorteks— bagian otak yang bertanggung jawab atas logika, empati, dan kreativitas— agar bisa mengendalikan dorongan dari bagian reptil otak yang lebih impulsif dan agresif. Dengan demikian, manusia bisa lebih maju dan kreatif, bukan hanya mengikuti pola tradisional dan rutinitas yang membelenggu.

Intinya, para orang tua dan pendidik perlu berpikir ulang tentang cara mendidik anak. Memberi mereka ruang untuk mengeksplorasi minat sendiri dan tidak memaksa mereka terus-menerus belajar dengan cara yang membosankan bisa membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih kreatif dan bahagia pada akhirnya. Karena, seperti yang disampaikan, perkembangan manusia bukan hanya soal menghafal, tetapi tentang memberi otomatisasi otak bagian atas untuk berpikir dan berkreasi.