Dalam sebuah komentar yang menarik perhatian, Ryu Hasan berkata, "IQ kita merosot tajam karena dilatih untuk merosot." Banyak orang menganggap itu sebagai candaan, tetapi sebenarnya itu adalah kesimpulan dari sebuah kenyataan yang cukup serius. Ryu menunjukkan bahwa cara berpikir masyarakat saat ini mulai mengalami perubahan besar yang berdampak langsung pada anak-anak.
Salah satu faktor utama penyebab turunnya kemampuan berpikir atau kognisi ini adalah pola hidup yang semakin dogmatis. Pola hidup ini bukan hanya soal agama, tetapi lebih kepada pola pikir yang menolak pertanyaan dan keinginan untuk selalu yakin tanpa bukti yang jelas. Mereka menjaga keyakinan mereka tanpa mau melakukan refleksi atau berpikir ulang. Dengan pola seperti ini, masyarakat cenderung menjaga keyakinan yang sudah ada tanpa membuka diri terhadap hal-hal baru yang mungkin berbeda.
Dogma seperti ini dapat membuat orang dewasa berhenti melakukan dua kegiatan penting yang harus dilakukan sepanjang hidup mereka, yaitu observasi dan penalaran. Observasi berarti memperhatikan dan memahami lingkungan sekitar, sedangkan penalaran adalah proses berpikir logis dan kritis. Ketika keduanya berhenti, dasar-dasar kemampuan berpikir manusia perlahan melemah. Menurut para ahli, keadaan ini terlihat dari berbagai hal, seperti orang yang mengambil keputusan bukan berdasarkan data, tetapi karena "katanya begitu"; pola asuh yang dijalankan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan anak; serta kesalahan diabaikan karena dianggap sudah pasti benar.
Selain itu, dunia pun dipandang secara hitam-putih, bukan sebagai pola yang perlu dipetakan dan dipahami secara lebih mendalam. Semua ini tidak lepas dari pola berpikir yang stagnan yang langsung memengaruhi pengasuhan. Banyak orang tua yang terbiasa tidak mengamati tanda-tanda tumbuh kembang anak dengan cermat. Mereka juga cenderung tidak bertanya-tanya dan mencari tahu apakah pola pengasuhan yang dilakukan sudah tepat. Banyak orang tua yang percaya bahwa proses tumbuh kembang anak akan berjalan sendiri tanpa perlu perhatian khusus.
Padahal, otak anak tidak tumbuh secara otomatis begitu saja. Otak anak berkembang melalui kehadiran orang tua, stimulasi yang diberikan, dan interaksi yang dilakukan. Ketika pola pikiran menjadi mekanis dan dogmatis, ketiga hal tersebut pun hilang. Akibatnya, anak-anak kehilangan kesempatan berkembang secara optimal.
Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat pada sebuah keluarga yang memiliki ekonomi stabil, tingkat pendidikan tinggi, dan pekerjaan yang mapan. Namun, dua dari tiga anak mereka mengalami stunting dan keterlambatan tumbuh kembang. Penyebabnya bukan karena kekurangan ekonomi atau kurangnya akses, tetapi lebih kepada pola pengasuhan yang tidak observatif dan terlalu dogmatis, sehingga orang tua tidak menyadari kebutuhan anak secara detail.
Ryu Hasan mengingatkan bahwa banyak orang merasa cukup dengan keyakinan tanpa bukti. Sebenarnya, keyakinan pribadi itu tidaklah salah. Namun, ketika pola pikir seperti ini diterapkan dalam bidang kesehatan, pendidikan, serta pengasuhan, maka hasilnya adalah dua generasi tumbuh tanpa latihan berpikir kritis dan reflektif yang cukup.
Menurut para ahli, penurunan IQ bukanlah sesuatu yang terjadi secara mendadak. Penurunan ini merupakan hasil dari proses panjang dan halus, yang terbentuk dari kebiasaan sehari-hari dalam bereaksi, memutuskan, dan memaknai dunia di sekitar kita. Dua generasi terakhir, dengan pola hidup yang tampak rapi dari luar, sebenarnya mengalami kekurangan refleksi di dalam diri mereka sendiri, yang berpotensi merusak masa depan bangsa.
Pola pikir dogmatis penurunan IQ pengasuhan anak perkembangan manusia refleksi pola hidup
