Durian dikenal sebagai "Raja Buah" di Asia Tenggara karena rasanya yang khas dan teksturnya yang lembut. Tapi sayangnya, rasa durian yang dulu lezat dan legit kini mulai menurun. Banyak orang mengeluhkan bahwa durian saat ini rasanya hambar dan tidak seperti dulu lagi.
Sebuah pengalaman pribadi mengungkapkan bahwa penulis sudah tidak lagi membeli durian karena banyak alasan. "Kolesterol, gas, harga mahal, dan rasanya yang sudah berubah," ujar Tikwan. Bahkan, aroma durian yang kuat sering membuat orang menoleh ke pinggir jalan saat durian dipajang, karena bau khasnya itu masih sangat menyengat.
Asal-usul durian yang dulunya tumbuh liar di hutan kini mulai terganggu. Habitat alami durian, seperti hutan yang yang selama ini menjadi tempat berkembang biaknya, berubah. Perkembangan kebun sawit yang luas menyebar hingga ke lereng-lereng hutan mengancam ekosistem durian asli. Durian yang dulu tumbuh secara alami, tanpa dipupuk atau dipelihara secara khusus, sekarang semakin langka dan rasanya semakin beragam, tergantung daerah dan proses pemetikannya.
Di Medan, sebuah kota besar di Indonesia, durian selalu menjadi buah favorit. Meski tidak ada kebun durian besar di kota ini, keberagaman durian dari daerah sekitarnya seperti Mandailing Natal, Padang Lawas, dan Nias membuat kota ini selalu dipenuhi durian saat musim panen.
Sayangnya, kualitas durian saat ini tidak seperti dahulu. Durian dari daerah seperti Marbau, Pamingke, dan Pulu Raja dulu terkenal dengan rasanya yang sangat lezat. Sekarang, banyak durian yang rasanya hambar dan kurang matangnya. Penyebab utamanya adalah pohon durian yang dipaksa berbuah dengan cara tidak alami, seperti diberi pupuk berlebihan yang tidak sesuai habitat aslinya. Akibatnya, buahnya tidak sempurna dan rasanya menurun.
Selain itu, tersedia sedikit kebun durian rakyat yang masih tersisa di pinggiran hutan, namun jumlahnya semakin sedikit dan sulit didapatkan sebelum mencapai pasar.
Pengusaha pertanian saat ini berupaya menanam durian secara massal dengan bibit unggul dan bersertifikat. Mereka berharap hasilnya istimewa, tapi seringkali gagal karena tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan dan izin resmi. Durian adalah pohon yang sangat sensitif dan cengeng; jika tidak ditanam di habitat aslinya, akan sulit berbuah dan rasanya tidak maksimal.
Malaysia sudah lebih dulu menyadari masalah ini. Mereka mengatur zonasi pertanian untuk durian, sehingga di sana, menanam durian harus dengan izin dari pemerintah. Pendekatan ini bertujuan menjaga kualitas durian dan memastikan pohon-pohon tidak terkontaminasi oleh tanaman lain yang tidak sesuai.
Di berbagai negara lain, seperti Perancis di Bordeaux, juga ada zonasi khusus. Di sana, wilayah tertentu hanya digunakan untuk menanam anggur, demi menjaga kualitas dan reputasi mereka sebagai penghasil anggur terbaik di dunia.
Indonesia, yang pernah dikenal sebagai penghasil durian medan terbaik, harus mulai mengatur tata kelola pertaniannya agar tetap berkelanjutan dan berkualitas. Jika tidak, kualitas durian akan terus menurun dan akhirnya mengurangi keistimewaan buah ini.
Saat ini, musim durian besar sedang berlangsung di Medan. Buah dari daerah seperti Sidikalang dan Dairi masih banyak dijual di pinggiran jalan. Sebagian durian dari kebun kecil belum terlalu terpengaruh perkebunan sawit yang luas, sehingga masih berpotensi menghasilkan durian yang enak.
Namun, untuk menjaga kualitas durian asli ini, perlu adanya restorasi ekosistem durian secara terencana dan nyata. Sayangnya, banyak pejabat dan pengusaha lebih memilih mencari keuntungan cepat, sehingga rencana besar untuk melestarikan durian seringkali terabaikan karena kurangnya insentif ekonomi dan kepentingan jangka panjang.
Melalui upaya pelestarian dan pengelolaan yang lebih baik, diharapkan durian yang terkenal dengan rasanya yang khas ini bisa kembali lagi ke kejayaannya. Jadi, meskipun tantangan besar, para pecinta durian tetap berharap kualitas durian asli bisa dipulihkan dan dinikmati oleh generasi berikutnya.
Durian perubahan rasa durian kerusakan habitat durian kebun durian kualitas durian menurun
