Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Ponorogo Kembali Jadi Pusat Pelestarian Naskah Nusantara dengan Digitalisasi Manuskrip Warisan Tegalsari

16 hari setelah pameran manuskrip Tegalsari digelar, Ponorogo kembali menunjukkan peran pentingnya dalam pelestarian sejarah dan budaya. Pada hari Rabu, 19 November 2025, dua tim dari komunitas akademik dan pelestari manuskrip, yaitu Tim Thoriqoh Syathoriyah Mataraman dan Asparagus Ponorogo Divisi Manuskrip dan Sejarah, melakukan kegiatan digitalisasi manuskrip warisan dari Tegalsari. Kegiatan ini dilakukan secara langsung di dua pesantren di Ponorogo. Tujuannya adalah agar manuskrip tua tersebut tetap bisa dipelajari dan dijaga keberadaannya melalui teknologi digital.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Pondok Pesantren (PP) Ali Muttaqin Patihan Wetan, yang terletak di Babadan, dan diasuh oleh Kyai Romdhoni. Di tempat ini, mereka menyentuh kembali peninggalan keluarga berupa manuskrip kuno yang diserahkannya. Manuskrip ini adalah warisan dari ayahnya, Kyai Fachruddin, yang merupakan keturunan dari tokoh penting dalam tradisi keilmuan Tegalsari, yaitu Kyai Iskak Coper. Dengan kegiatan ini, manuskrip tersebut akan tersimpan dengan baik dalam bentuk digital, sehingga mudah dipelajari dan dilestarikan.

Setelah itu, perjalanan digitalisasi dilanjutkan ke Ma’had Al-Muqoddasah Nglumpang di Mlarak. Di tempat ini, tim Asparagus Ponorogo menemukan dua manuskrip langka. Pertama, manuskrip Tarekat Kholwatiyah Samaniyah yang merupakan warisan dari Kyai Moch. Mulyo, mantan naib Dolopo. Kedua, manuskrip Tarekat Syatoriyah yang diperoleh dari Bapak Damanhuri, Lurah Coper. Manuskrip Tarekat Kholwatiyah menampilkan gambaran tentang tasawuf, sebuah aspek spiritual dalam agama Islam, berisi ajaran dan simbol dari tarekat tersebut. Sementara manuskrip Tarekat Syatoriyah memperlihatkan simbol-simbol yang kaya dan memiliki sanad atau garis keturunan keilmuan yang jarang disebut dalam kajian sebelumnya.

Dalam manuskrip Tarekat Syatoriyah itu, terdapat nama yang menarik perhatian, yaitu "Kyai Bagus Shofiyuddin ing Cirebon." Nama ini dikenal luas oleh para peneliti tarekat karena ia dikenal sebagai Pangeran Jatmaningrat, tokoh terkenal yang menyebarkan tarekat Syatariyah di lingkungan kerajaan di Cirebon. Penemuan ini memperlihatkan adanya hubungan dan mobilitas keilmuan antara Ponorogo dan Cirebon. Para santri dari Cirebon yang pernah belajar di Tegalsari membawa kembali tradisi zikir dan ajaran tarekat, yang kemudian berkembang di pesantren-pesantren tua di Ponorogo seperti Coper, Mambil, dan Gontor.

Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa jalur keilmuan tarekat di Jawa tidak berkembang secara terpisah, melainkan sebagai jaringan yang saling terhubung dan dipengaruhi oleh para guru dan santri dari berbagai daerah. Manuskrip yang ditemukan menjadi bukti nyata bahwa jejak tersebut masih bisa dilacak melalui lembaran-lembaran kuno yang sekarang kembali bersuara. Hal ini membuka wawasan baru tentang sejarah keilmuan dan hubungan antar pusat tradisi tasawuf di Indonesia.

Khoirul Fata dari Asparagus Divisi Manuskrip dan Sejarah menyatakan bahwa penemuan ini menjadi batu pijakan baru untuk memahami perjalanan tarekat di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa jalur keilmuan di Indonesia bukanlah garis lurus, melainkan jaringan yang rumit dan terbentuk dari interaksi para guru dan santri yang hijrah dan membawa tradisi mereka ke berbagai wilayah.