Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Harga Beras Jadi Indikator Ekonomi Nyata yang Lebih Jujur

Dalam diskusi tentang kondisi ekonomi negara, sering terdengar istilah-istilah rumit seperti inflasi inti, YoY, MoM, dan angka-angka statistik lainnya. Namun, sebenarnya, untuk memahami kesehatan ekonomi kita, kita tidak selalu memerlukan kalkulator yang rumit.

Salah satu indikator paling sederhana dan jujur adalah harga beras. Beras adalah barang kebutuhan primer yang dikonsumsi oleh hampir semua orang di Indonesia. Jika harga beras naik, dampaknya akan terasa langsung di kehidupan sehari-hari masyarakat. Daya beli menurun, pengeluaran menjadi lebih besar, dan keadaan sosial juga bisa tidak stabil. Hal ini karena beras tidak bisa “disembunyikan” atau “direkayasa” dengan narasi politik seperti angka-angka statistik lainnya.

Misalnya, jika kita melihat data dari tahun 2013, harga beras rata-rata nasional saat itu sekitar Rp 7.300 hingga Rp 7.500 per kilogram. Sedangkan pada tahun 2025, harga beras di berbagai daerah bisa mencapai Rp 14.000 hingga Rp 17.000 per kilogram. Artinya, dalam waktu 12 tahun, harga beras telah naik sekitar dua kali lipat. Hal ini menunjukkan adanya inflasi struktural yang lebih tinggi dari klaim resmi pemerintah, yang biasanya menyebut inflasi tahunan hanya sekitar 3 sampai 5 persen.

Padahal, jika dihitung dari awal tahun 2013, kenaikan harga beras yang sebenarnya terjadi sangat signifikan. Perbedaannya terletak pada cara pemerintah menyajikan data inflasi. Mereka biasanya membandingkan harga dari satu tahun ke tahun berikutnya, sehingga lonjakan besar bisa tertutup oleh angka yang terlihat kecil. Sebaliknya, membandingkan harga beras dari 2013 ke 2025 memberi gambaran yang lebih jujur tentang keadaan ekonomi rakyat.

Apa sebabnya tahun 2013 menjadi titik awal yang jujur? Karena tahun itu adalah masa sebelum kondisi ekonomi memburuk akibat depresiasi mata uang rupiah besar-besaran, subsidi energi yang dicabut, dan krisis global yang melanda beberapa tahun belakangan. Dengan demikian, tahun 2013 dianggap sebagai waktu saat kondisi ekonomi masih relatif stabil dan normal.

Saat harga beras naik dua kali lipat dari harga tahun 2013, ini berarti daya beli masyarakat menurun. Beban hidup mereka naik, kualitas konsumsi menurun, dan ada kemungkinan muncul kemiskinan terselubung. Semua hal ini tidak bisa tampak secara lengkap dari grafik inflasi tahunan yang hanya menunjukkan angka kecil dan tampak rapi.

Mengapa inflasi YoY (Year-over-Year) bisa menyesatkan? Karena inflasi ini hanya membandingkan harga saat ini dengan harga 12 bulan lalu. Jika tahun lalu harga sudah tinggi, maka pertumbuhan harga tampak kecil. Padahal, kenyataannya, masyarakat sudah menjalani kehidupan dengan harga-harga yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Contoh sederhana: Harga beras 2013 sekitar Rp 7.500 per kilogram. Pada tahun 2024, naik menjadi Rp 15.000, dan tahun 2025 mencapai Rp 16.000. Secara YoY, inflasi tahun 2025 hanya sekitar 2-3 persen, padahal kenaikan harga sudah sekitar 110 persen sejak 2013. Ini seperti naik gunung setinggi 3.000 meter, tetapi diberitahu bahwa kenaikannya hanya 50 meter. Padahal, orang sudah kelelahan, kehabisan napas di puncak.

Dalam kenyataannya, ekonomi rakyat sangat dipengaruhi oleh biaya hidup yang meningkat. Jika harga bahan pokok seperti beras, telur, minyak, dan listrik terus naik tetapi penghasilan mereka tidak naik sepadan, maka kesejahteraan masyarakat semakin memburuk. Itulah mengapa kita perlu melihat kondisi secara langsung, bukan hanya angka statistik yang disusun secara administratif.

Intinya, indikator yang paling sederhana dan jujur adalah mempertanyakan: Berapa biaya hidup rakyat yang naik? Berapa pendapatan mereka yang naik? Dan, apakah jarak antara keduanya semakin melebar? Jika biaya hidup meningkat lebih cepat dari pendapatan, maka ekonomi sedang mengalami inflasi kesejahteraan negatif, yang berarti kualitas hidup masyarakat secara umum sedang menurun.

Jadi, ekonomi bukan hanya tentang angka-angka di laporan resmi. Lebih dari itu, ekonomi terlihat dari apa yang dirasakan rakyat. Jika harga barang kebutuhan pokok terus meningkat, tetapi pendapatan mereka tidak mengikuti, maka sesungguhnya ekonomi kita sedang tidak baik. Pengalaman dan kenyataan hidup rakyat adalah bukti paling jujur tentang kondisi ekonomi negara saat ini.