Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Kota Batu Tingkatkan Pembiayaan Darurat Bencana dengan Dana Bersama dan Skema Baru

Wali Kota Batu, Nurochman yang dikenal sebagai Cak Nur, mengumumkan bahwa kota ini sedang memperkuat sistem pembiayaan darurat bencana. Salah satu langkah utamanya adalah penggunaan Dana Bersama PFB, sebuah dana strategis yang bisa digunakan saat keadaan darurat bencana terjadi. Dana ini dirancang agar pemerintah daerah cepat dapat mengatasi situasi darurat tanpa harus menunggu dana dari pusat.

Dalam kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk BNPB RI, BPBD Jawa Timur, dan Kementerian Keuangan, Cak Nur menjelaskan bahwa Pemkot Batu juga telah menyiapkan Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). BTT ini merupakan dana tambahan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila terjadi bencana mendadak, seperti banjir atau tanah longsor.

“Ini merupakan langkah nyata agar penanggulangan bencana di Batu bisa berjalan tepat waktu dan sesuai aturan,” ujar Cak Nur. Ia menambahkan, Dana Bersama tersebut merupakan inovasi pendanaan yang membantu kota dalam mempercepat respons dan proses pemulihan pasca-bencana.

Sangat penting untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Dalam kegiatan tersebut juga dibahas strategi pembiayaan dan asuransi risiko bencana. Selain itu, masyarakat diajak melakukan tindakan pencegahan seperti menanam vegetasi untuk menjaga lingkungan dan mengurangi kemungkinan banjir serta tanah longsor.

Cak Nur pun menegaskan bahwa menjaga kawasan Kota Batu sangat penting karena lokasinya di ketinggian 700-2000 meter di atas permukaan laut. Sektor pertanian, pariwisata, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang hampir separuh dari perekonomian kota ini. Oleh karena itu, pengurangan risiko bencana harus menjadi perhatian utama.

Lebih jauh, beliau menyebutkan upaya yang dilakukan pemerintah dalam memperkuat fisik kawasan dan meningkatkan kemampuan masyarakat. Salah satunya adalah memperbaiki sistem pemetaan kerawanan, melakukan susur sungai, serta membersihkan titik sumbatan agar wilayah kota lebih aman dari bencana.

Data dari BPBD Kota Batu menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, sekitar 84 persen dari kejadian bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan tanah longsor. Tahun 2025 pun diperkirakan akan mengalami hal serupa, dengan 57 persen kejadian berupa tanah longsor dan 11 persen banjir.

Cak Nur juga menyampaikan lima arahan penting dalam penanggulangan bencana. Pertama, memperkuat kerja sama antara berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan media. Ia menegaskan kolaborasi ini adalah kunci dalam menyiapkan sumber daya dan informasi yang tepat waktu.

Kedua, meningkatkan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan, dan simulasi bencana agar warga bisa sigap dan tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Ketiga, perencanaan pengurangan risiko harus dilakukan secara terintegrasi dan menyatukan persepsi antar sektor.

Keempat, memperluas komunikasi dan informasi kesiapsiagaan ke tingkat desa dan kelurahan agar tidak ada satu pun warga yang terlewat. Kelima, mengaktifkan posko siaga dan sistem peringatan dini yang dipantau 24 jam di wilayah rawan bencana.

Hasil dari upaya ini mulai menunjukkan perkembangan positif. Indeks risiko bencana Kota Batu turun dari 81,0 pada tahun 2023 menjadi 75,21 di tahun 2024. Cak Nur pun mengingatkan bahwa penanganan bencana harus bersifat preventif, bukan hanya reaktif. Ia menegaskan, kesiapsiagaan dan kesadaran diri masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak dan menyelamatkan nyawa saat bencana melanda.