Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

UKWK Malang Luncurkan E-Katalog Batik Tulis untuk Lindungi Hak Cipta dan Tingkatkan Pemasaran

Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang baru saja meluncurkan sebuah inovasi penting untuk melindungi kekayaan budaya Indonesia. Mereka bekerja sama dengan Yayasan Bakti Luhur untuk membuat e-katalog digital yang berisi koleksi batik tulis khas Bakti Luhur. Tujuan utama dari langkah ini adalah melindungi hak cipta para pengrajin dan mempromosikan batik Indonesia ke pasar global.

Pembuatan e-katalog ini bukan hanya soal digitalisasi gambar batik. Menurut Diah Imaningrum Susanti, Dekan Fakultas Hukum UKWK Malang, mereka menyediakan pendampingan lengkap. Mulai dari mengatur pembukuan, mengelola media sosial, hingga membantu dalam pengajuan hak kekayaan intelektual (HKI). Melalui langkah ini, diharapkan produk batik Bakti Luhur bisa dikenal lebih luas dan punya perlindungan hukum yang kuat.

"Kami bekerjasama dengan Universitas Katolik Sugiyopranoto Semarang agar batik ini bisa dipromosikan melalui e-katalog, sehingga wisatawan asing lebih mudah memilih motif yang mereka inginkan," ujar Diah. Ia menjelaskan, e-katalog ini memudahkan orang dari luar negeri dalam membeli dan mengetahui motif batik yang unik dan khas dari Indonesia.

Selain aspek bisnis dan hukum, kolaborasi ini juga memperhatikan masalah lingkungan. Diah menambahkan, mereka memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. "Selama ini limbah dari pembuatan batik sering dibuang sembarangan di tanah kosong. Itu menjadi perhatian serius kami karena dampaknya tidak baik bagi lingkungan," katanya.

Batik Tulis Bakti Luhur memiliki proses pembuatan yang sangat unik. Proses dimulai dengan membuat sketsa desain dulu. Kemudian, pengrajin memakai lilin putih dari limbah yang diambil dari Gua Maria. Pengambilan limbah ini juga melibatkan anak-anak muda dari komunitas gereja secara rutin, sebagai bagian dari usaha berkelanjutan.

"Pengambilan limbah dari Gua Maria ini adalah bagian dari komitmen kami untuk memproduksi batik secara ramah lingkungan dan berkelanjutan," ujar Diah.

Muryanti, seorang pengrajin senior dari Yayasan Bakti Luhur, berbagi pengalaman sejak mengikuti kursus membatik pada tahun 1985 dan 1986. Dia menuturkan, "Setelah tiga bulan belajar, saya langsung dipercaya untuk mengembangkan bakat saya. Saya menguasai seluruh proses pembuatan batik tulis." Menurut Muryanti, pembuatan batik berkualitas tinggi memakan waktu antara satu sampai tiga bulan, tergantung tingkat kesulitan desain dan kemampuan pengrajin.

Batik Bakti Luhur terkenal dengan motif-motif khas seperti Parangtritis, Kawung, Kas Malang, serta motif dari Yogyakarta. Warna-warnanya cerah dan mencolok, menarik perhatian banyak wisatawan. Harga jualnya berkisar antara Rp250.000 sampai Rp400.000 per meter kain.

Produk ini sudah banyak diminati wisatawan dari berbagai negara, termasuk Australia, Prancis, Belanda, Jepang, dan Singapura. Prestasi membanggakan lainnya adalah ketika Batik Tulis Bakti Luhur dipilih sebagai hadiah ulang tahun untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia.

"Karena bakat dan keahlian yang kami kembangkan, saya sering diundang untuk mempromosikan batik di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya," ujar Muryanti dengan bangga.

Diharapkan, kolaborasi antara akademisi, komunitas seni, dan pelaku usaha ini bisa menjadi model yang baik dalam mengembangkan usaha kecil dan melestarikan warisan budaya Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa industri batik tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan budaya bangsa kita.