Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Masyarakat Dukuh Centong Gelar Doa Kharaharian untuk Keamanan dan Kedamaian

Pada hari Minggu, 14 September 2025, masyarakat Dukuh Centong yang berada di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, mengadakan acara doa kharaharjan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar memberi keselamatan, ketentraman, dan perlindungan dari berbagai bahaya yang mengancam.

Rangkaian doa ini dilakukan secara penuh khidmat dan penuh penghayatan. Mereka membaca doa dan zikir secara bersama-sama, serta melakukan kegiatan keagamaan lain seperti membaca kidung singgah-singgah dan Kidung Sarira Ayu. Selain itu, mereka juga melantunkan Mantra Karmo yang dipimpin secara kolektif, sebagai bagian dari upaya memohon berkah dan perlindungan dari Tuhan.

Doa ini tidak hanya sebagai permohonan perlindungan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur desa, khususnya kepada Eyang Aryo Dito. Eyang Aryo Dito dikenal sebagai tokoh penting yang pernah membabat lingkungan sekitar sehingga desa tersebut menjadi aman dan makmur.

Wakil Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, turut hadir dalam acara tersebut dan mendampingi warga dalam kegiatan doa bersama ini. Ia berharap kegiatan ini membawa banyak manfaat, seperti keberkahan, keamanan, dan kelangsungan kesejahteraan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.

Dalam sambutannya, beliau juga mengatakan bahwa tradisi doa bersama ini harus terus dilestarikan. Menurutnya, tradisi ini merupakan warisan budaya yang penting dan sekaligus sebagai momen untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga desa.

"Semoga apa yang kita lakukan hari ini membawa Dusun Centong agar selalu penuh berkah, harmonis, dan masyarakatnya sejahtera," ujar Bunda Lisdyarita. Ia berharap tradisi ini tetap lestari dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.