Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Bahlsen Minta Maaf Atas Temuan Pekerja Paksa di Era Nazi

Perusahaan kue terkenal Jerman, Bahlsen, yang dikenal dengan produk ikonik seperti Choco Leibniz dan Waffeletten, telah mengeluarkan permintaan maaf terkait laporan baru yang menunjukkan bahwa mereka menggunakan banyak pekerja paksa selama era Nazi. Temuan ini memperlihatkan bahwa jumlah pekerja paksa yang dipekerjakan jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Laporan yang dirilis oleh dua sejarawan baru-baru ini mencatat hampir 800 orang, banyak di antaranya berasal dari Polandia dan Ukraina, yang dipaksa untuk bekerja di perusahaan tersebut. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi sebelumnya yang hanya berkisar antara 200 hingga 250 pekerja. Selain itu, laporan tersebut juga menegaskan bahwa penggunaan pekerja paksa terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama, yaitu dari tahun 1940 hingga 1945.

Permintaan maaf ini muncul setelah anggota keluarga pemilik Bahlsen, Verena Bahlsen, membuat pernyataan kontroversial pada tahun 2019. Ia menyatakan bahwa perusahaan "membayar pekerja paksa setara dengan pekerja Jerman dan memperlakukan mereka dengan baik" selama Perang Dunia II. Pernyataan tersebut menimbulkan kemarahan publik dan mendorong perusahaan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang sejarah mereka.

Dalam sebuah pernyataan resmi, keluarga Bahlsen menggambarkan temuan ini sebagai "tidak nyaman dan menyakitkan," dan mengekspresikan penyesalan bahwa perusahaan tidak menghadapi kebenaran ini lebih awal. "Kami sebagai keluarga tidak bertanya tentang bagaimana perusahaan kami bisa bertahan selama Perang Dunia II," ungkap mereka dalam pernyataan yang diterbitkan pada hari Selasa dan dilaporkan oleh Agence France-Presse.

Bahlsen, yang didirikan oleh kakek buyut Verena, diketahui sebelumnya telah mempekerjakan sejumlah besar tenaga kerja paksa, terutama perempuan, yang dipaksa bekerja oleh rezim Nazi antara 1943 dan 1945. Keluarga Bahlsen mengakui bahwa nenek moyang mereka "memanfaatkan sistem pada masa itu" dan menyebut perilaku perusahaan mereka sebagai "tidak dapat dimaafkan."

Verena Bahlsen juga cepat mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas komentar "tanpa pikir panjang" yang ia buat pada tahun 2019. Ia kemudian meninggalkan perusahaan tersebut tiga tahun setelahnya.