Perang antara Israel dan kelompok militan Hamas telah memasuki bulan kesepuluh, dan menurut kementerian kesehatan Gaza, jumlah korban jiwa telah melebihi 40.000 orang. Selain itu, terdapat sekitar 92.000 orang terluka di wilayah yang dikelola oleh Hamas.
Lebih dari 25% dari total korban yang tewas adalah anak-anak. Ini menunjukkan dampak besar dari konflik ini terhadap generasi muda yang seharusnya dapat hidup dengan aman dan nyaman.
Perang ini dimulai setelah serangan teror yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober, yang mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas, kebanyakan diantaranya adalah warga sipil. Akibatnya, lebih dari 85% dari 2,3 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi, dan sebagian besar bangunan di wilayah tersebut mengalami kerusakan.
Sekolah-sekolah di Gaza juga ditutup, mengakibatkan anak-anak kehilangan akses pendidikan dasar. Pada bulan Juli, sekelompok ahli independen dari PBB memperingatkan bahwa risiko kelaparan telah menyebar di seluruh wilayah Gaza, yang semakin memperburuk situasi kemanusiaan.
Hamas mencatat jumlah korban tanpa membedakan antara warga sipil dan militan, sehingga ada pertanyaan mengenai akurasi daftar tersebut. Meski demikian, beberapa badan PBB telah mengakui keakuratan angka-angka tersebut.
Sebuah analisis yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet memperkirakan jumlah kematian akibat perang ini dapat mencapai 186.000 jika mempertimbangkan kematian karena malnutrisi, kurangnya obat-obatan, dan kondisi hidup yang tidak sehat.
Dari sisi militer, Israel mengklaim telah menghancurkan 10.000 militan Hamas di Gaza dan kehilangan lebih dari 300 prajurit sejak operasi mereka dimulai. Konflik ini menunjukkan betapa kompleksnya isu yang melibatkan dua pihak dan efek yang dirasakan oleh masyarakat umum.
Perang yang berkepanjangan ini meninggalkan dampak mendalam pada kehidupan masyarakat di Gaza dan mengingatkan kita akan pentingnya perdamaian serta penyelesaian konflik secara damai.
