Ronosentanan, sebuah desa kecil yang sekarang dikenal seperti desa biasa, ternyata memiliki sejarah panjang di masa lalu. Pada tahun 1745 hingga 1837 M, wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan sebuah kadipaten bernama Pedanten. Dua abad yang lalu, daerah ini menjadi tempat berkuasanya tokoh-tokoh penting dan menjadi pusat kekuasaan yang luas.
Menurut catatan sejarah, dari pusat di Ronosentanan, kekuasaan kadipaten ini menyebar ke berbagai penjuru. Ke arah selatan, mencapai daerah Mlarak. Ke arah timur, wilayah kekuasaannya sampai Pulung. Bahkan, konon, kekuasaan mereka nyaris sampai ke Trenggalek, sebuah kabupaten di dekatnya.
Adipati pertama dari Kadipaten Pedanten adalah Tumenggung Jayengrono. Ia adalah tokoh yang sangat dihormati dan namanya masih di kenal dan dihormati oleh masyarakat saat ini. Pendiri dan pemimpin pertama ini dianggap sebagai pahlawan yang memulai sejarah panjang daerah tersebut.
Seiring waktu berjalan, sekitar hampir dua abad yang lalu, struktur pemerintahan kadipaten ini melebur dan bergabung ke dalam wilayah Kabupaten Ponorogo Kutho Tengah. Meski begitu, semangat dan sejarahnya tetap diingat dan dihormati.
Pada Sabtu malam, 9 Agustus 2025, pemerintah desa bersama masyarakat bekerja sama untuk mengabadikan memori berharga tersebut. Mereka memahat sebuah prasasti berjudul “Situs Kadipaten Pedanten” sebagai tanda dan penghormatan terhadap sejarah yang pernah berlangsung di desa ini. Prasasti itu langsung ditandatangani oleh Bupati Sugiri Sancoko, sebagai simbol resmi dan penghormatan terhadap sejarah daerah tersebut.
Namun, sekadar menuliskan sejarah di batu prasasti tidak cukup. Bupati Sugiri Sancoko berpesan agar nilai dan semangat perjuangan dari para leluhur tetap hidup dalam hati dan pikiran masyarakat saat ini. Menurutnya, perjuangan dan semangat mereka harus menjadi bahan bakar untuk meneruskan pembangunan dan kemajuan bangsa.
"Situs ini bukan hanya penanda masa lalu. Ini pengingat agar kita sebagai anak bangsa terus berpikir, melangkah, mencatat, dan meneruskan api perjuangan leluhur," kata Kang Bupati. Pesan ini mengingatkan generasi sekarang untuk menghargai sejarah dan semangat perjuangan yang telah diwariskan.
