Di tengah tantangan pasar kerja yang sulit, banyak pelamar kerja kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan peluang mereka mendapatkan pekerjaan. Sebuah laporan dari Financial Times yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan bahwa sekitar separuh dari pelamar saat ini menggunakan alat AI, seperti ChatGPT atau Google Gemini.
Alat-alat ini membantu pelamar dalam menambahkan kata kunci yang tepat pada resume mereka, menulis surat lamaran yang lebih rapi, dan menyelesaikan penilaian yang diperlukan dalam proses perekrutan. Dengan menggunakan teknologi ini, pelamar berharap dapat menarik perhatian perekrut dan meningkatkan kesempatan mereka untuk diundang wawancara.
Salah satu dampak signifikan dari penggunaan AI adalah meningkatnya jumlah aplikasi yang diterima untuk setiap lowongan pekerjaan. Beberapa perekrut mencatat bahwa jumlah aplikasi yang mereka terima bisa dua kali lipat dari biasanya. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi manajer yang bertugas melakukan seleksi, karena mereka harus memeriksa lebih banyak dokumen untuk menemukan kandidat yang cocok.
Meskipun demikian, para perekrut mulai bisa mengenali aplikasi yang dihasilkan oleh AI hanya dengan melihat sekilas. Mereka menyadari adanya pola tertentu dalam cara penyampaian yang bisa membedakan tulisan manusia dan mesin.
Perekrutan yang lebih kompetitif ini menunjukkan betapa pentingnya untuk tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga menambahkan sentuhan personal dalam aplikasi, agar dapat lebih menarik perhatian perusahaan yang sedang mencari kandidat yang tepat.
