Bumi Honggolono, yang terletak di Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, menjadi salah satu lokasi yang sangat penting dalam pelestarian kesenian Reog Ponorogo. Reog Ponorogo adalah kesenian tradisional yang terkenal di Indonesia, terutama di daerah Ponorogo, yang menampilkan tarian dan drama dengan kostum dan atribut yang mencolok.
Dari Bumi Honggolono inilah lahir grup Galuh Suryo Honggolono. Grup ini kini dikenal sebagai salah satu kelompok reog terbesar di area Bumi Reog. Dalam rangka melestarikan budaya ini, Galuh Suryo Honggolono rutin menggelar acara yang disebut gebyakan reog setiap tahun untuk menutup Bulan Suro, bulan pertama dalam kalender Jawa yang dianggap sakral.
Pada Jumat, 25 Juli 2025, acara gebyakan reog berlangsung dengan meriah. Sebanyak 72 dadak merak, yaitu sosok berpenampilan menarik yang menjadi ikon dalam kesenian Reog, tampil secara bergantian. Mereka hadir lengkap dengan penari jathil dan bujangganong, yang juga merupakan komponen penting dalam pertunjukan reog.
Acara ini dihadiri oleh berbagai seniman dari berbagai grup reog di seluruh wilayah Kota Reog, sehingga menjadikannya sebagai ajang pertunjukan yang sangat menarik. Wakil Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, juga tidak ketinggalan hadir dalam acara tersebut. Ia terlihat sangat menikmati pertunjukan sambil berbaur dengan para seniman reog yang menunjukkan bakat dan dedikasi mereka.
Bunda Lisdyarita memberikan apresiasi atas semangat para seniman yang terus menjaga dan mengembangkan kesenian Reog Ponorogo. Ia menyatakan bahwa peran mereka sangat penting. Tanpa mereka, kesenian Reog tidak mungkin diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO, lembaga yang banyak berperan dalam pelestarian budaya dunia.
"Kini tugas kita bersama adalah menjaga Reog agar tidak hanya lestari, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi," tegasnya. Harapannya, pelestarian kesenian ini tidak hanya membuat Reog Ponorogo tetap hidup, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya.
