Pada tanggal 17 Juli 2023, sekelompok warga dari kawasan Gunung Gede-Pangarango melakukan aksi protes yang berani di depan kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Mereka mengekspresikan keberatan terhadap sebuah proyek geothermal yang mereka anggap bisa mengancam kehidupan mereka dan lingkungan sekitar. Proyek geothermal ini merujuk pada pemanfaatan panas bumi untuk menghasilkan energi, namun warga merasa bahwa hal itu bisa merusak ekosistem dan mata pencaharian mereka.
Dalam aksi ini, warga membawa surat undangan yang berisi informasi tentang “pemutakhiran data” lahan yang sebelumnya mereka kelola. Surat tersebut juga menyertakan informasi tentang “pemanfaatan panas bumi,” yang memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. "Kami menolak rencana ini dengan tegas," ungkap salah satu koordinator aksi. Mereka merasa bahwa proyek ini lebih mengutamakan kepentingan bisnis daripada kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Aksi protes ini merupakan bentuk respon dan sikap tanpa kompromi dari warga. Mereka berkumpul untuk menyuarakan pendapat mereka di hadapan pihak TNGGP, berharap agar suara mereka didengar dan dipertimbangkan sebelum keputusan lebih jauh diambil. Dalam konteks ini, penolakan terhadap proyek geothermal menunjukkan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan dan hak-hak mereka atas sumber daya alam.
Edukasi mengenai bahaya ekstraktivisme, yaitu praktik eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan, sangat penting. Warga berusaha untuk mengedukasi diri mereka dan masyarakat luas tentang dampak jangka panjang dari proyek-proyek seperti ini. Melalui gerakan #tolakgeothermal, mereka mengajak masyarakat untuk berpikir kritis mengenai penggunaan sumber daya alam dan dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.
