Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Pemkab Ponorogo Tangani Serangan Hama Wereng Secara Serentak

Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah mengambil langkah cepat dalam mengatasi masalah serangan hama wereng yang mengganggu tanaman padi di beberapa wilayah. Tindakan ini dilakukan setelah sebelumnya penanganan hama dilakukan secara terpisah atau parsial. Kini, penyemprotan pestisida dilakukan secara serentak di seluruh sawah yang terdampak dan berpotensi terinfeksi hama.

Pada Selasa, 15 Juli 2025, di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, rembug pengendalian hama wereng dipimpin oleh Bupati Sugiri Sancoko. Dalam acara tersebut, hadir perwakilan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, serta perwakilan dari 21 camat, 104 kepala desa, penyuluh pertanian, dan 104 gabungan kelompok tani (gapoktan) se-Ponorogo. “Saya ingin ini menjadi gerakan bersama. Kita tidak bisa melawan hama wereng sendiri-sendiri. Harus bergerak serentak agar bisa efektif dan cepat teratasi,” ujar Kang Bupati Sugiri.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo, Suprianto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan 300 liter pestisida untuk mendukung penyemprotan serentak ini. Jumlah tersebut diharapkan dapat mencakup kebutuhan untuk sekitar 200 hektare sawah, terutama di lahan-lahan yang telah dikategorikan rawan dan waspada. “Kebutuhan pestisida untuk satu hektare sawah adalah sekitar 1,5 liter,” jelasnya.

Langkah ini juga didukung oleh Kementerian Pertanian RI dan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, yang memberikan dukungan teknis dan sarana pengendalian yang diperlukan.

Menurut data dari Dipertahankan Ponorogo, hama wereng telah menyerang 112,42 hektare lahan padi yang tersebar di 45 desa. Dari jumlah tersebut, 95,66 hektare mengalami serangan ringan, 9,96 hektare sedang, dan 7,15 hektare dalam kondisi berat. “Ada 4,15 hektare yang mengalami puso atau gagal panen,” tambah Suprianto. Selain itu, terdapat 875 hektare lahan lainnya yang berada dalam status waspada dan berpotensi terdampak apabila tidak segera ditangani.