Pada tanggal 11 Juli 2025, warga dari Flores-Lembata akan menggelar konferensi pers untuk menyampaikan penolakan mereka terhadap proyek geothermal. Proyek yang diklaim sebagai “energi bersih” dan “ramah lingkungan” oleh pemerintah pusat dan pemerintah NTT tersebut, ternyata menjadi sumber masalah bagi warga setempat.
Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, sebelumnya membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menyelidiki persoalan yang muncul akibat proyek geothermal di wilayah mereka. Pada 4 Juli 2025, tim Satgas melaporkan hasil temuannya dalam sebuah rapat koordinasi yang berlangsung di Kupang.
Namun, laporan tersebut dianggap oleh warga sebagai tidak akurat. Warga menyatakan bahwa mereka mengalami kerusakan pada kebun, pencemaran tanah dan air, serta masalah kesehatan yang signifikan. “Kami juga dipecah-belah dan mengalami intimidasi hingga kriminalisasi,” ujar salah satu perwakilan warga.
Warga merasa bahwa suara mereka tidak didengarkan dan menganggap keputusan untuk membentuk tim Satgas menunjukkan ketidakpedulian pemerintah terhadap nasib mereka. “Alih-alih mendengarkan suara rakyat, mereka malah membuat laporan yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan,” tambah perwakilan tersebut.
Konferensi pers ini akan dilaksanakan secara hybrid, yaitu melalui Zoom dan juga disiarkan di YouTube JATAM. Narasumber yang akan hadir adalah perwakilan warga dari berbagai daerah yang terkena dampak, termasuk Atadei, Sokoria, Mataloko, Nage, Poco Leok, dan Wae Sano. Moderator konferensi ini adalah JATAM (Jaringan Advokasi Tambang).
Warga berharap partisipasi publik dalam konferensi pers ini dapat membantu mendukung perjuangan mereka melawan proyek geothermal yang menurut mereka merugikan. Mereka menegaskan pentingnya menjaga keadilan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
