Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Ponorogo Rikolo Semono 2: Merasakan Keajaiban Masa Lalu

Pusat kota Alun-Alun Ponorogo disulap menjadi nuansa tahun 70 hingga 90-an. Event ini mengajak pengunjung merasakan kembali suasana yang lebih sederhana namun penuh makna.

Acara yang bernama “Ponorogo Rikolo Semono 2” dibuka pada Rabu, 9 Juli 2025, oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Event ini berlangsung selama sepekan, dari tanggal 9 hingga 15 Juli 2025. Selama waktu itu, pengunjung dapat menikmati pengalaman unik dengan berbagai tema dan kegiatan dari masa lampau.

Lebih dari 200 stand Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ikut memeriahkan acara ini. Setiap stand memiliki desain yang klasik, terbuat dari bahan kayu dan anyaman bambu, serta atap daun rumbia. Ini semua membuat suasana terasa semakin autentik dan menarik bagi semua pengunjung.

Hiburan yang ditampilkan juga membawa pengunjung kembali ke masa lalu. Beberapa pertunjukan yang ditawarkan antara lain layar tancap, reog lawas, jaran thek, ludruk, musik keroncong, orkes kawak, dan wayang cimen. Hal ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk merasakan budaya yang mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Bupati Sugiri Sancoko menjelaskan, “Setelah Grebeg Suro ditutup, kita buka lagi dengan Ponorogo Rikolo Semono. Kita nostalgia dengan tempo dulu, sekaligus membangun keteduhan dan karakter. Dengan menengok ke belakang, kita mengingat bahwa kita dilahirkan dari masa lalu.”

Acara ini tidak hanya sekedar nostalgia. Menurut Bupati, “Ponorogo Rikolo Semono 2” juga merupakan upaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain itu, acara ini diharapkan dapat membuka jalan bagi Ponorogo untuk bergabung dalam jejaring kota kreatif UNESCO.

Bupati menambahkan, “Ponorogo harus aktif mengadakan event, menggali potensi seni, budaya, dan agama. Ini bagian dari ikhtiar agar kita bisa masuk ke jejaring kota kreatif UNESCO.” Dengan demikian, acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus mempertahankan warisan budaya daerah.