Pada Senin, 7 Juli 2025, Desa Sawuh merayakan Hari Jadi ke-179 dengan mengadakan pagelaran wayang kulit yang berjudul "Bangun Candi Sapto Argo". Pagelaran ini dipimpin oleh Dalang Sigit Ariyanto dan dihadiri oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko. Tujuannya adalah untuk mengadakan ritual bersih desa, yang merupakan tradisi untuk membersihkan dan menyucikan desa dari hal-hal buruk.
Lakon "Bangun Candi Sapto Argo" mengisahkan tokoh Abiyasa, yang dikenal sebagai kakek dari Pandawa dan Kurawa. Dalam ceritanya, Abiyasa memilih untuk melepaskan kehidupannya sebagai ksatria dan beralih menjadi begawan yang lebih mementingkan spiritualitas. Ia merasa gelisah melihat keadaan dunia yang semakin kelam, di mana nilai-nilai moral mulai dilupakan.
Saat Abiyasa mengungkapkan keinginannya untuk membangun sebuah candi, anak cucunya, Pandawa dan Kurawa, langsung bersaing untuk mendapatkan perhatian dan terlibat dalam proyek tersebut. Namun, perbedaan pandangan di antara mereka justru menciptakan gesekan yang kemungkinan akan menimbulkan perselisihan.
Jadi, Abiyasa kemudian menjelaskan bahwa maksud dari "membangun candi" bukanlah tentang candi fisik. Salah satu cuplikan dialognya menjelaskan, "Begawan Abiyasa nyawang dunyo soyo peteng, kabeh eker-ekeran, lok-lokan. Begawan Abiyasa mengutarakan membangun candi." Yang dimaksud adalah pentingnya membangun pribadi yang luhur dan meningkatkan kerukunan antar warga.
Kang Bupati Sugiri Sancoko berharap, melalui lakon ini, masyarakat Desa Sawuh dapat terinspirasi untuk memperkuat kebersamaan dan menyamakan visi demi kemajuan desa. "Mudah-mudahan dengan bersih desa dan di usianya ke-179, Desa Sawuh bisa mengambil pelajaran dari lakon 'Bangun Candi Sapto Argo'. Sawuh semakin rukun, makmur, hebat," ujarnya.
Pagelaran ini bertujuan untuk mengingatkan semua warga akan pentingnya kerukunan dan meningkatkan solidaritas dalam membangun komunitas. Dengan semangat dan kebersamaan, Desa Sawuh diharapkan dapat menghadapi tantangan ke depan dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
