Pemerintah Kabupaten Ponorogo, sebuah kota kecil yang terkenal dengan budaya dan tradisinya, kembali menghidupkan sebuah tradisi lama yang bernama laku tirakatan. Tradisi ini biasanya dilakukan masyarakat Ponorogo untuk menyambut datangnya Tahun Baru Islam, yang jatuh pada 1 Surah atau 1 Muharram.
Setiap tahun, tepat di tengah malam menjelang 1 Suro, ribuan warga dari berbagai penjuru berkumpul di Alun-alun Ponorogo. Mereka melakukan perjalanan baik secara raga maupun batin. Tujuannya adalah untuk melakukan ritual penyucian hati dan spiritual, sebagai bentuk penghormatan dan refleksi menyambut tahun baru menurut penanggalan Islam.
Pada hari Kamis (26 Juni 2025), acara ini dimulai dengan kegiatan di alun-alun. Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, tampak hadir dan membacakan salah satu petuah dari Serat Paniti Baya. Serat ini adalah karya kuno dari Panembahan Agung Panaraga, Adipati kedua Ponorogo yang hidup ratusan tahun lalu. Serat Paniti Baya berisi 176 petuah moral dan spiritual yang berfungsi sebagai panduan untuk menjauhkan diri dari perilaku tercela dan menghindari kesengsaraan hidup.
Selain mendengar petuah dari naskah kuno, warga juga disuguhi pertunjukan teatrikal yang menggambarkan perjalanan hidup manusia melalui simbol warna. Pada bagian puncaknya, seluruh warna yang ada di panggung dihapus, sebagai simbol penyucian hati dan membersihkan diri dari segala sifat buruk.
Tak hanya itu, ada juga pertunjukan seni bela diri tradisional yang bernama Solah Mothik. Seni ini menggunakan senjata pendek khas Ponorogo yang panjangnya sekitar satu hasta (sekitar 45 cm). Para pemuda lokal menunjukkan kelihaian mereka dalam menampilkan aksi seni bela diri ini, yang sudah langka dan mulai dilupakan generasi muda.
Menurut pengamat budaya, pertunjukan Solah Mothik dan kegiatan spiritual lainnya adalah usaha untuk menjaga dan mewariskan budaya unik Ponorogo agar tidak hilang di tengah modernisasi. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya dan spiritual bangsa.
Tradisi laku tirakatan Ponorogo Tahun Baru Islam Serat Paniti Baya budaya lokal
