Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Prosesi Kirab Pusaka Agung Ponorogo yang Meriah

Pada Rabu tengah malam, 25 Juni 2025, acara kirab Pusaka Agung Kabupaten Ponorogo dimulai. Sebelum dikirab dan dijamas, pusaka-pusaka ini diambil dari Ndalem Pringgitan. Setelah itu, benda-benda bersejarah tersebut dibawa ke Komplek Makam Bathoro Katong yang terletak di kawasan Kota Lama.

Lima pusaka yang diarak antara lain adalah Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung, Tombak Kiai Tunggul Nogo, Angkin Cinde Puspito, Kiai Pamong Angon Geni, dan Tombak Kiai Bromo Geni. Kelima benda pusaka ini dipindahkan dengan dihormati dan dikawal oleh ratusan bergadha, yang merupakan warga yang menjaga tradisi dan budaya lokal.

Di sepanjang perjalanan, lampu-lampu dimatikan. Penerangan hanya berasal dari obor-obor yang dibawa oleh bergadha. Meskipun acara ini berlangsung larut malam, ribuan warga Ponorogo tetap datang dengan antusias. Mereka menunggu dengan penuh khidmat di titik-titik jalur yang dilalui, menerangi malam dengan semangat dan kesederhanaan.

Setibanya di Kota Lama, jalan menuju Makam diterangi oleh lilin-lilin. Pusaka Agung Ponorogo diserahkan kepada juru kunci untuk diinapkan sebelum dikirab dan dijamas pada keesokan harinya. Aktifitas ini tidak hanya ceremonial, tetapi juga mengandung makna mendalam bagi masyarakat Ponorogo.

Kang Bupati Ponorogo menegaskan bahwa nilai utama dari prosesi ini terletak bukan hanya pada benda pusakanya, tetapi juga pada semangat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ia menyatakan, "Pusaka yang paling ampuh di Ponorogo adalah bagaimana bahu membahu, saling memahami, saling mengerti, saling menyadari." Dengan itu, ia mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan demi mencapai Ponorogo yang hebat.

Lebih lanjut, Kang Bupati juga menjelaskan makna dari pusaka Kiai Pamong Angon Geni yang dibuat pada masa pemerintahannya. Ia menjelaskan, "Artinya, pemimpin harus mampu menggembalakan api. Kalau api mampu digembalakan, maka akan memanasi, akan memberikan spirit, dan kehangatan kepada rakyat." Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kepemimpinan yang baik dalam mengelola kehidupan masyarakat.