Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Kegiatan Susur Sungai Gembong Dipimpin Wali Kota Pasuruan

PASURUAN – Pada Kamis (19/6), Wali Kota Pasuruan, H. Adi Wibowo, S.Tp, M.Si, yang akrab disapa Mas Adi, memimpin kegiatan susur sungai gembong. Kegiatan ini dimulai dari sungai Pohjentrek dan berakhir di pelabuhan Kota Pasuruan. Susur sungai bertujuan untuk memantau kondisi sungai yang ada di wilayah tersebut.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan empat kapal karet. Sebelum memulai susur sungai, diadakan apel bersama untuk memastikan semua peserta memahami tujuan dari kegiatan ini. Wali Kota Pasuruan menyatakan bahwa kegiatan ini sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari analisis potensi sungai serta ancaman dan tantangan yang ada di Kota Pasuruan.

"Memang sudah direncanakan jauh hari untuk menyusuri sungai kita untuk melakukan analisis potensi, ancaman, dan hambatan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa Kota Pasuruan dikelilingi oleh tiga sungai, salah satunya adalah sungai Gembong yang cukup besar," ujar Mas Adi dalam siaran persnya.

Wali Kota juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitarnya. "Kita sudah melakukan perjalanan dari Pohjentrek sampai Margo Utomo, dan kita lihat banyak sekali potensi untuk wisata sungai. Namun, ada kendala seperti penyempitan sungai dan masalah sampah. Kita perlu kesadaran bersama, di samping dorongan aturan dari pemerintah," harapnya.

Lebih lanjut, Mas Adi mengingatkan agar tidak ada bangunan, terutama tempat tinggal, di pinggir sungai atau di atas parapet. Hal ini penting karena kawasan tersebut rawan roboh. "Kita lihat beberapa kawasan di pinggir sungai seharusnya tidak menjadi tempat tinggal. Ketika bencana terjadi, rumah di pinggir sungai bisa roboh. Kita perlu memetakan potensi, ancaman, hambatan, dan peluang untuk pembangunan di Kota Pasuruan supaya pembangunan tidak hanya fisik, tetapi juga seimbang dengan lingkungan," tambahnya.